Rabu, April 7, 2021
Beranda finance Yuk Belajar Valuasi Saham Dengan Berbagai Metode

Yuk Belajar Valuasi Saham Dengan Berbagai Metode

Bagi seorang investor, menghitung atau melakukan estimasi valuasi saham (stock valuation) suatu perusahaan sangat penting dalam mengambil keputusan investasi.

Dengan menghitung valuasi saham, investor tersebut dapat mengidentifikasi apakah harga saham perusahaan tersebut overvalued (terlalu mahal dibanding nilai wajar nya), undervalued (dibawah harga yang seharusnya), atau sudah pas berada pada nilai yang sewajar-nya (market price).

ayo, kamu yang investor saham ritel angkatan corona, beli saham nya pake ngitung valuasi-nya dulu, atau sekedar ikut ikutan trend aja, atau cuma pake feeling doang 🙂 “

Untuk seorang CEO atau top management suatu perusahaan, memahami valuasi saham sangat penting agar dapat mengambil keputusan bisnis yang tepat yang dapat meningkatkan valuasi saham perusahaan yang dipimpin nya.

Untuk para pekerja di suatu Perusahaan, dengan mengerti bagaimana saham perusahaan di valuasi, tentu akan dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal dalam upaya meningkatkan valuasi saham perusahaan tempat nya bekerja, yang pada akhirnya tentu akan berpengaruh pada kesejahtraan para pekerja nya.

Dalam dunia investasi saham, dikenal dua pendekatan analisa yang umum dipakai investor sebagai dasar pengambilan keputusan investasi, yaitu :

  • Analisa Teknikal, berdasarkan data historis pergerakan harga saham perusahaan.
  • Analisa Fundamental, berdasarkan kondisi kesehatan operasional dan finansial perusahaan (yang dapat di telaah dari laporan keuangan-nya), kondisi industri terkait dan kondisi perekenomian secara umum.

Analisa teknikal umumnya digunakan untuk keperluan investasi jangka pendek, sementara Analisa fundamental diperlukan untuk Investasi jangka panjang.

Kedua pendekatan ini dapat dikombinasikan agar pertimbangan dalam mengambil keputusan Investasi lebih komprehensif,  

Misalnya analisa fundamental untuk memilih perusahaan mana yang secara fundamental bagus dan memiliki prospek pertumbuhan tinggi, sementara analisa teknikal digunakan untuk memilih saat yang tepat untuk masuk (membeli saham perusahaan tersebut).

- Advertisement -

Valuasi Saham yang akan saya uraikan pada artikel ini lebih ke analisa fundamental, yaitu bagaimana menghitung dan menilai kewajaran harga saham suatu perusahaan.

Dirangkum dari beberapa sumber (terutama Lawrence J Gitman & Chad J.Zutter, “Principles of Managerial Finance” 13th Edition dan Investopedia.com ), saya akan menguraikan berbagai metode dalam perhitungan valuasi saham, tentu dilengkapi dengan contoh contoh agar lebih mudah dipahami.

Sebelum masuk ke metode metode perhitungan, sebagai pengantar, mari kita pahami dulu faktor faktor yang penting dalam valuasi saham perusahaan dan bagaimana memperkirakan growth suatu perusahaan.

 

Faktor Faktor Penting Dalam Valuasi Saham Perusahaan

“Nilai dari suatu saham pada dasarnya adalah present value dari semua future cash flows (dividends) perusahan tersebut sampai waktu tak terhingga”

Future cash flow (dividend) perusahaan diperkirakan dengan beberapa metode dan dengan menggunakan asumsi pertumbuhan (growth) tertentu.

Formula paling umum digunakan dalam valuasi saham perusahaan adalah “Gordon Growth Model“, dengan mengasumsikan cash flow (dividen) suatu perusahaan tumbuh pada suatu rate yang konstan, yaitu sebagai berikut :

Gordon Growth Model Untuk Valuasi Saham

Dari rumus tersebut, bisa kita maknai sebagai berikut :

  • Valuasi saham berbanding lurus dengan nominal expected dividend tahun berikutnya (D1), semakin besar dividend yang diperkirakan akan di hasilkan, maka akan semakin tinggi nilai valuasi saham nya, dan sebaliknya.*
  • Required return on common stock, ini adalah tingkat imbal balik yang diharapkan dari investasi di saham tersebut, required return ini dapat menggunakan weighted average cost of capital (WACC) Perusahaan tersebut.

Weighted average cost of capital (WACC) adalah rata rata tertimbang dari biaya modal suatu perusahaan. WACC dirumuskan sebagai berikut :

wacc_formula
Formula Weighted Average Cost of Capital (WACC)

Lebih detail mengenai WACC ini dapat dibaca pada artikel saya berikut :

Memahami Perhitungan Weighted Average Cost Of Capital (WACC)

- Advertisement -

Required return atau WACC ini berbanding terbalik dengan valuasi saham perusahaan, semakin besar required return maka akan semakin kecil valuasi saham nya dan sebaliknya

  • Growth (tingkat pertumbuhan) dividend, ini berbanding lurus dengan valuasi saham, semakin tinggi potensi growth perusahaan kedepan, maka akan semakin tinggi juga valuasi saham perusahaan tersebut.

* Catatan penting:

Nilai nominal dividen ini perlu di cermati juga secara rasio (dividen pay-out ratio),  yaitu dibandingkan dengan total keuntungan bersih perusahaan tersebut (earning available to common stockholders).

Perusahaan yang membagikan sebagian besar keuntungannya dalam bentuk dividend, secara tidak langsung berarti kehilangan kesempatan untuk meng-investasikan kembali keuntungan tersebut untuk mengejar pertumbuhan (growth),

dan sebaliknya. Perusahaan yang memilki dividen pay-out yang rendah (sebagian besar laba ditahan menjadi retained earnings untuk kemudian di investasikan kembali), berpotensi memiliki growth yang lebih tinggi.

Biasanya Perusahaan yang sedang pesat bertumbuh akan memiliki dividen pay-out ratio yang kecil, sementara perusahaan yang sudah establish dan stabil bisnis-nya akan memiliki dividen pay-out ratio yang lebih besar.  

 

Bagaimana Memperkirakan Growth Suatu Perusahaan?

Salah satu key point dalam valuasi saham adalah bagaimana kita meng-estimasi growth suatu perusahaan?

Salah satu pendekatan adalah dengan berdasarkan data historis growth tahun-tahun sebelumnya dengan metode compund annual growth/ CAGR).

CAGR formula
Formula Compound Annual Growth (CAGR)

“Akan tetapi perlu di-ingat bahwa growth yang terjadi di masa lalu Perusahaan bukan jaminan bahwa perusahaan tersebut akan tumbuh dengan rate yang sama di masa depan”

(bisa jadi lebih rendah, bisa jadi lebih tinggi, atau malah bisa jadi perusahaan tiba tiba bangkrut karena suatu persoalan)

Petunjuk lain yang bisa kita gunakan untuk memperkirakan growth Perusahaan diantara nya adalah Laporan Keuangan Perusahaan tersebut :

  • Pada Income Statement bisa kita cermati bagaimana pertumbuhan revenue-nya dibandingkan dengan peningkatan cost nya.

Apakah biaya yang naik lebih banyak COGS, Operational Cost atau biaya lain nya?.

  • Pada Balance Sheet dapat kita lihat pertumbuhan asset nya, apakah lebih dibiayai oleh hutang (debt) atau peningkatan owner’s equity?.
  • Pada Cashflows Statement kita cermati bagaimana pergerakan arus kas perusahaan, apakah kegiatan operasional menghasilkan arus kas positif?,  Bagaimana dengan aktifitas financing (pendanaan perusahaan), apakah perusahaan menambah hutang baru atau lebih banyak melunasi hutang sebelumnya?,
  • Perlu kita cermari pula Capital Expenditure (CapEx) perusahaan pada Cash Flow from Investment Activities, apakah perusahaan agresif melakukan invetasi baru (yang menjadi salah satu sinyal potensi pertumbuhan kedepan),

atau jangan jangan arus kas dari investasi-nya malah positif, yang berarti Perusahaan menjual sebagian dari aset aset nya (ini sinyal buruk, terutama jika yang dijual adalah aset aset produktif).

  • Dari Cashflows Statement dan The Statement of Shareholder’s Equity (Laporan perubahan Equitas) , kita dapat cermati bagaimana pembayaran dividend Perusahaan, dividen pay-out ratio nya, dan apakah perusahaan berupaya mencari pembiayaan dari penerbitan saham baru?
  • Dari rasio rasio keuangan perusahan tersebut dapat kita analisa tingkat kesehatan perusahaan, bagaimana profitability ratios nya, liquidity ratios, debt ratios, activity ratios, dan market ratios nya. 

Kita dapat analisa rasio rasio ini secara time series, maupun dibandingkan dengan perusahaan sejenis untuk menilai apakah perusahaan cukup sehat dan di jalur yang tepat untuk tumbuh atau sebaliknya.

Ibarat hasil medical check-up yang merupakan indikator kesehatan seseorang, Laporan keuangan beserta rasio rasio-nya ini adalah indikator kesehatan suatu perusahaan.

Perusahaan yang sehat tentu mempunyai potensi pertumbuhan yang lebih baik dibanding perusahaan yang sakit.

Lebih detail mengenai hal ini dapat dibaca pada artikel saya yang mengupas detail mengenai Laporan keuangan dan rasio rasio nya sebagai berikut :

 

Selain kesehatan perusahaan itu sendiri, potensi growth perusahaan juga ditentukan oleh faktor eksternal, diantara nya :

  • Bagaimana secara umum prospek pertumbuhan ekonomi negara ke depan (dan juga perekonomian global) ?
  • Apakah ada regulasi atau rencana kebijakan pemerintah yang berdampak pada bisnis Perusahaan?
  • Prospek industri sejenis secara umum
  • Bagaimana trend kebutuhan pasar kedepan terhadap produk dan jasa yang dihasilkan oleh Perusahaan, apakah terdapat perkembangan teknologi yang ber-potensi mengubah kebutuhan pasar (potential disruption), atau terdapat produk subtitusi yang akan mengganti-kan jenis produk yang diproduksi perusahaan tersebut?
  • Sejauh apa perusahaan adaptif terhadap perubahan trend tersebut,
  • Bagaimana dengan kompetitor?, apakah perusahaan berpotensi mengungguli kompetitornya atau sebaliknya.

Kombinasi beragam faktor internal dan eksternal ini lah yang mempengaruhi potensi growth perusahaan,

Setajam apapun analisa serorang investor, tidak ada yang bisa menebak dengan pasti bagaimana growth suatu perusahaan di masa depan (karena investor bukan lah ahli nujum 🙂 )

Akan selalu ada resiko dan ketidakpastian dalam investasi. Yang dapat dilakukan adalah berupaya melakukan estimasi se-akurat mungkin dengan data data yang tersedia, dan sisanya adalah asumsi asumsi yang bisa saja berbeda antar satu investor dan investor lainnya.  

 

Metode Metode Dalam Valuasi Saham Perusahaan

- Advertisement -

Oke, sekarang kita masuk ke metode metode perhitungan dalam valuasi saham perusahaan.

Untuk mempermudah pemahaman, saya akan sajikan contoh case pada setiap metode, menggunakan suatu perusahaan imaginer, katakanlah bernama “danieel.id Bersaudara“, yang bergerak di-bidang Textile, Garment.

Weighted average cost of capital (WACC) perusahaan imaginer ini telah kita hitung pada artikel Memahami Perhitungan Weighted Average Cost Of Capital (WACC) (yaitu 10,34%)  :

 

1. Valuasi Saham dengan Metode Dividend Growth

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, nilai dari suatu saham pada dasarnya adalah present value dari semua future cash flows (dividends) perusahan tersebut sampai waktu tak terhingga.

Walaupun sebenarnya pemegang saham dapat saja menjual saham nya untuk meperoleh capital gain, sebenarnya nilai yang di-bayar oleh investor untuk suatu saham adalah hak untuk memperoleh kentungan dalam bentuk dividend di kemudian hari.

Bagaimana jika pada suatu periode tertentu, suatu perusahaan memutuskan untuk tidak membagikan dividend (semua keuntungan dijadikan retained earnings / laba ditahan), atau dividend pay-out ratio nya sangat kecil?.

Tetap saja hal ini berarti potensi untuk mendapatkan dividend di periode berikunya menjadi lebih besar, karena retained earning tersebut jika diinvestasikan dengan tepat justru akan meningkatkan growth Perusahaan.

Rumus dasar untuk menghitung valuasi saham dari dividend adalah sebagai berikut :

Rumus Dasar Valuasi Saham
Rumus Dasar Untuk Menghitung Valuasi Saham

Rumus tersebut dapat disederhanakan dengan mendefinisikan deviden pada tahun tertentu sebagai fungsi pertumbuhan (growth) dari dividen tahun sebelumnya.

Terdapat tiga pendekatan terkait pertumbuhan (growth) tersebut yaitu : zero growth, constant growth dan variable growth. Yuk kita bahas satu per satu :

1.1. Zero Growth Model

Pada model ini, diasumsikan tidak ada pertumbuhan dividen sama sekali, artinya dividen tahun pertama sama persis dengan dividen tahun kedua, sama juga dengan dividen tahun ketiga dan seterusnya.

zero growth model

Jika di masukkan dalam rumus dasar diatas kemudian disederhanakan, rumus valuasi saham dengan tanpa pertumbuhan (zero growth) adalah sebagai berikut :

zero growth model
Zero Growth Model Pada Valuasi Saham

Contoh case :

Seorang Investor (katakanlah bernama Fulan) berencana membeli saham Perusahaan “danieel.id Bersaudara”.

Jika dia memperkirakan dividen perusahaan tersebut akan tetap sama dengan dividen tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp 354 per lembar setiap tahunnya,

dan tingkat pengembalian yang dia harapkan dari investasi di saham tersebut (required return) adalah 10,34 %, maka valuasi dari saham “danieel.id Bersaudara” adalah :

Note : required return ini dapat menggunakan nilai weighted average cost of capital (WACC) Perusahaan tersebut

Kita masukkan data yang tersedia pada case tersebut ke formula zero growth model.

Maka valuasi saham “danieel.id Bersaudara” = D1/rs = (Rp 354/10,34%) = Rp 3.424

Oke, sekarang investor tersebut tinggal membandingkan berapa harga saham actual “danieel.id Bersaudara” di pasar saat itu.

Jika valuasi saham yang dia hitung tadi lebih besar nilai nya dibanding harga saham actual, maka berarti harga saham perusahaan tersebut saat ini sedang dalam posisi “undervalued” atau dibawah potensi harga sebenarnya. Ini kesempatan untuk membeli saham tersebut dengan harga murah,

Dan sebaliknya, jika valuasi saham yang dia hitung tadi lebih kecil nilai nya dibanding harga saham actual perusahaan tersebut di pasar, maka berarti saham perusahaan tersebut sedang dalam posisi “overvalued“, atau terlalu mahal dibanding potensi sebenarnya.  

 

1.2. Constant Growth Model

Constant Growth Model atau dikenal juga dengan nama Gordon Growth Model adalah pendekatan yang paling umum digunakan untuk menilai valuasi saham.

Pada pendekatan ini di asumsikan dividend saham suatu perusahaan akan tumbuh (growth) pada rate yang tetap setiap tahunnya.

Sehingga dividend pada tahun ke t (Dt) = dividend saat ini (D0) di kalikan growth (1+g) pangkat t :

constant growth model

Jika di masukkan dalam rumus dasar valuasi saham seperti telah dijelaskan sebelumnya, kemudian disederhanakan, rumus valuasi saham dengan pertumbuhan tetap (constant growth) adalah sebagai berikut :

gordon growth model
Gordon Growth Model Untuk Valuasi Saham

Contoh case :

Fulan (seorang Investor) berencana membeli saham Perusahaan “danieel.id Bersaudara”.

Investor ini memperkirakan growth dividend perusahaan tersebut kedepan berdasarkan data historis, yaitu dengan Compound Annual Growth (CAGR) dividend yang dibayarkan danieel.id bersaudara selama 6 tahun terakhir,

(kemudian melakukan adjustment berdasarkan keyakinan Fulan terhadap potensi growth Perusahaan “danieel.id Bersaudara” , setelah mempelajari kondisi fundamental perusahaan tersebut melalui Laporan keuangan nya, pertumbuhan ekonomi secara umum dan faktor faktor eksternal lainnya)

Berikut data historis dividend danieel.id Bersaudara 2015 – 2020:

Data Historis Dividen “danieel.id Bersaudara” 2015-2020

Fulan menghitung growth dividend perusahaan tersebut dari data historis dengan formula CAGR :

CAGR = ((354/280)^(1/5))-1  = 4,8 %

Fulan menjadikan CAGR ini sebagai dasar perkiraan awal untuk growth perusahaan, kemudian melakukan adjustment berdasarkan faktor faktor internal dan eksternal seperti yang tadi sudah disebutkan.

Fulan memperkirakan pertumbuhan (growth) Perusahaan “danieel.id Bersaudara” pada tahun 2021 dan tahun tahun berikutnya di angka 4,5 %.

Tingkat pengembalian yang dia harapkan (required return) sama dengan weighted average cost of capital (WACC) perusahaan tersebut yaitu 10,34 %.

Maka valuasi dari saham “danieel.id Bersaudara” adalah :

Pertama kita hitung dulu  dividen pada tahun berikut nya (tahun 2021, dalam hal ini D1) : yaitu dividen tahun terakhir (tahun 2020) dikalikan dengan growth 4,5 % tersebut, 

= Rp 354 x (1 + 4,5 %) = Rp 370

Lalu kita masukkan data yang tersedia pada case tersebut ke formula constant growth model.

Maka valuasi saham “danieel.id Bersaudara” = D1/(rs – g)  = 371/(10,34% –  4,5 %) = Rp 6.334

Nilai valuasi ini jauh lebih besar dibanding metode zero growth model,

Dapat kita lihat disini, jika perusahaan tersebut (berpotensi) tumbuh, maka valuasi nya akan semakin meningkat. Semakin besar growth nya, maka akan semakin besar pula valuasi saham nya.

 

1.3. Variabel Growth Model

Variable growth model dapat digunakan jika potensi pertumbuhan suatu perusahaan diperkirakan ber-variasi.

Misalnya dikarenakan ada terobosan teknologi tertentu oleh perusahaan tersebut, atau perubahan regulasi tertentu yang mempengaruhi bisnis Perusahaan, atau hal hal lain yang meng-akibatkan growth Perusahaan untuk beberapa tahun kedepan menjadi jauh lebih tinggi atau jauh lebih rendah jika dibandingkan keadaan normal.

Pada pendekatan ini, secara garis besar, kita bagi periode pertumbuhan dividen perusahaan, yaitu :

  • Initial growth (g1) dimana terjadi pertumbuhan yang signifikant pada beberapa tahun tertentu katakanlah sampai akhir tahun ke- N , dan
  • Stable growth (g2), dimana pertumbuhan perusahaan tersebut diperkirakan sudah stabil dan constant pada rate tertentu.

Langkah langkah untuk mengitung valuasi perusahaan dengan Variabel Growth Model adalah sebagai berikut :

Langkah 1

Hitung nilai dividend setiap tahun pada periode initial growth g1 (dari tahun ke 1 sampai dengan tahun ke N)

Formula berikut digunakan untuk menghitung nilai dividend setiap tahun pada periode initial growth :

 

Langkah 2

Hitung nilai present value dari dividen setiap tahun pada periode initial growth tersebut. berikut adalah formula present value :

Formula Present Value
Formula Untuk Menghitung Present Value

Langkah 3

Kita hitung valuasi saham pada akhir dari periode initial growth, dengan cara sebagai berikut :

  • Pertama, menggunakan rate pertumbuhan pada periode stabil (konstan) – g2,  hitung nilai dividend pada tahun N+1 (tahun pertama periode pertumbuhan stabil)

  • Lalu kita gunakan constant growth model untuk meng-hitung valuasi saham pada akhir dari periode initial growth :

  • Kemudian, kita hitung nilai sekarang (present value) dari valuasi saham pada akhir dari periode initial growth tersebut

 

Langkah 4

Jumlah kan present value dari dividen setiap tahun pada periode initial growth yang kita hitung pada langkah dua diatas, dengan present value dari valuasi saham pada akhir dari periode initial growth yang kita hitung pada langkah 3

Bagaimana?  masih bingung ya?

 

Supaya gak bingung, yuk kita coba dengan contoh case :

Masih dengan investor yang kita beri nama Fulan tadi, dan Perusahaan Imaginer “danieel.id Bersaudara”

Kali ini Fulan mempertimbangkan membeli saham “danieel.id Bersaudara”, dimana Perusahaan ini cerita nya sedang berkembang pesat, karena baru saja menerapkan terobosan teknologi terbaru pada produknya yang sangat diminati oleh pasar.

Dividen terbaru yang dibagikan perusahaan tersebut (tahun 2020) adalah Rp 354 per lembar saham.

Fulan memperkirakan, dikarenakan terobosan teknologi terbaru di perusahaan “danieel.id Bersaudara”, dividen perusahaan ini akan meningkat 10 % (g1) setiap tahunnya, setidaknya selama 3 tahun kedepan (2021,2022,2023), sebelum nanti kembali ke tingkat pertumbuhan normal 4,5 % (g2) per tahun.

Tingkat pengembalian yang dia harapkan (required return) sama dengan weighted average cost of capital (WACC) perusahaan tersebut yaitu 10,34 %

maka, pada case ini,  valuasi dari saham “danieel.id Bersaudara” adalah :

Oke, kita terapkan 4 langkah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada case ini :

Langkah 1 :

Kita hitung nilai dividend setiap tahun pada periode initial growth g1 = 10% (dari tahun ke 2021 sampai dengan tahun ke 2023), sebagai berikut :

Dividen Setiap Tahun “danieel.id Bersaudara” Pada Periode Initial Growth

Langkah 2 :

Kita hitung nilai present value dari dividen setiap tahun pada periode initial growth tersebut [PV2020(1)]  sebagai berikut :

Present Value dari Dividen Per-Tahun “danieel.id Bersaudara” Pada Periode Initial Growth

Dari perhitungan seperti pada tabel tersebut, kita peroleh :

PV2020(1)  = Rp 1.055

Langkah 3 :

Pertama, menggunakan rate pertumbuhan pada periode stabil (konstan) – g2,  hitung nilai dividend pada tahun 2024 (tahun pertama periode pertumbuhan stabil), sebagai berikut :

D2024 = Rp 471 x (1 + 4,5%) 

D2024 = Rp 492

Lalu kita gunakan constant growth model untuk meng-hitung valuasi saham pada akhir dari periode initial growth (2023)  :

P2023 = Rp 492 / (10,34% – 4,5 %)

P2023 = Rp 8.431

Kemudian, kita hitung nilai sekarang (present value) dari valuasi saham pada akhir dari periode initial growth (2023) tersebut :

PV2020(2)  =  Rp 8.431 / (1+ 10,34%)3

PV2020(2)  = Rp 6.276

 

Langkah 4 :

Kita jumlah kan present value dari dividen setiap tahun pada periode initial growth yang kita hitung pada langkah dua diatas [PV2020(1)], dengan present value dari valuasi saham pada akhir dari periode initial growth yang kita hitung pada langkah 3 [PV2020(2)]

PV2020 = Rp 1.055 + Rp 6.276

PV2020  Rp 7.332

Valuasi Saham “danieel.id Bersaudara” dengan menggunakan metode Variable Growth Model ini adalah Rp 7.332 per lembar saham

 

Karena growth yang tinggi pada tiga tahun pertama, nilai valuasi saham dengan model variable growth ini, tentu saja lebih tinggi jika dibandingkan dengan model valuasi saham sebelumnya (zero growth dan constant growth model)

Yuk lanjut kehalaman 2, kita akan membahas Valuasi Saham dengan Metode Free Cash Flow Growth

Danielhttps://danieel.id
Lahir di Palembang pada bulan November 1981, saya menyelesaikan S1 di Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya, dan S2 Master Business Administration (MBA) di Sekolah Bisnis Management Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB). Bekerja di salah satu BUMN dan tinggal di daerah Jakarta Selatan.

Recent Articles

Most Popular

Recent Comments

>
error: Alert: Content is protected !!