Valuasi Saham: 3 Metode, Rumus, dan Contoh Praktis

Daniel
15 Min Read

Pernah melihat harga saham turun lalu langsung merasa, “Wah, murah!”? Saya lebih suka mengajak kita berhenti sebentar: murah dibanding apa? Valuasi saham membantu memperkirakan nilai wajar sebuah bisnis, sehingga harga pasar dapat dibandingkan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan manfaat bagi pemegang saham.

Analisis fundamental menelaah bisnis, laporan keuangan, dan prospeknya; analisis teknikal menelaah pergerakan harga serta volume. Keduanya dapat dipakai sesuai tujuan, tetapi di sini kita berfokus pada perhitungan nilai. Hasilnya adalah estimasi berdasarkan asumsi, bukan kepastian harga yang akan dicapai.

Disclaimer: seluruh perusahaan X dan Y serta angka dalam artikel ini merupakan contoh dummy untuk belajar. Pemilihan contoh tidak berarti saran pembelian, penjualan, atau penilaian tertentu terhadap perusahaan nyata. Artikel ini bukan rekomendasi investasi pribadi. Periksa data aktual, risiko, dan kesesuaian keputusan dengan kondisi masing-masing.

Faktor penting: arus kas, risiko, dan pertumbuhan

Dalam valuasi saham, tiga penggerak utama nilai adalah arus kas, pertumbuhan, dan tingkat diskonto. Arus kas lebih besar cenderung meningkatkan nilai, sedangkan risiko yang tercermin dalam tingkat diskonto lebih tinggi cenderung menurunkannya. Pertumbuhan baru menciptakan nilai bila investasi yang mendukungnya menghasilkan pengembalian yang memadai.

Kita harus memasangkan arus kas dengan diskonto yang tepat: dividen dan FCFE memakai biaya ekuitas (ke), sedangkan FCFF memakai WACC. FCFE tersedia bagi pemegang saham setelah kebutuhan investasi dan pendanaan utang; FCFF tersedia bagi seluruh penyedia modal sebelum pembayaran kepada mereka.

WACC = [E ÷ (D + E)] × ke + [D ÷ (D + E)] × kd × (1 − T)

Untuk struktur tanpa saham preferen, E dan D adalah nilai pasar ekuitas serta utang berbunga, kd biaya utang sebelum pajak, dan T tarif pajak yang relevan. Jika ada saham preferen, tambahkan bobot nilai pasarnya dikalikan biaya saham preferen, dengan seluruh bobot berjumlah satu. Pelajari konteksnya dalam perhitungan WACC dan biaya ekuitas melalui CAPM.

Bagaimana memperkirakan pertumbuhan?

Mulailah dari tren penjualan, margin, kebutuhan modal kerja, belanja modal, utang, dan kebijakan dividen. Baca empat jenis laporan keuangan bersama rasio keuangan perusahaan. Industri, regulasi, persaingan, dan teknologi juga memengaruhi proyeksi.

CAGR = (Nilai akhir ÷ Nilai awal)1/n − 1

n adalah jumlah interval, bukan jumlah observasi. Dividen dummy yang naik dari Rp280 menjadi Rp354 dalam enam observasi tahunan memiliki lima interval; CAGR-nya sekitar 4,80%. Riwayat ini hanya titik awal, bukan jaminan pertumbuhan berikutnya. Dividen khusus dan pemecahan saham perlu disesuaikan agar perbandingannya setara.

Dividend payout ratio = Dividen per saham ÷ EPS, untuk periode yang sepadan

Laba ditahan tidak otomatis meningkatkan nilai: lihat mutu reinvestasinya. Arus kas investasi positif juga tidak otomatis buruk; penyebabnya bisa penjualan aset tidak produktif atau pencairan investasi. Untuk valuasi saham, yang kita perlukan adalah alasan bisnis di balik angka.

Valuasi saham dengan pertumbuhan dividen

Aliran dividen masa depan sebagai dasar valuasi saham dengan model pertumbuhan
Dividen masa depan perlu diterjemahkan menjadi nilai saat ini.

Dividend Discount Model (DDM) cocok saat dividen cukup mencerminkan kemampuan perusahaan mendistribusikan kas. Nilai hari ini adalah jumlah nilai sekarang dari dividen yang diharapkan. Harga jual di masa depan dalam model ini mencerminkan dividen setelah tanggal penjualan.

P0 = Σt=1…∞ [Dt ÷ (1 + ke)t]
PV arus kas tahun t = Arus kast ÷ (1 + r)t

P0 adalah nilai per saham saat ini, Dt dividen per saham pada akhir tahun t, dan ke biaya ekuitas. Contoh perusahaan X memakai D0 = Rp354 dan ke = 12% per tahun. Angka 12% merupakan asumsi latihan, terpisah dari WACC 10,34% pada contoh FCFF.

Zero growth: dividen tetap

D1 = D2 = … = D;   P0 = D ÷ ke

Jika dividen tetap Rp354 setiap tahun tanpa batas, P0 = Rp354 ÷ 12% = Rp2.950. Penyederhanaan ini membutuhkan dividen berkelanjutan dan biaya ekuitas positif. Nilai di atas harga pasar menunjukkan potensi undervaluation menurut asumsi model, bukan otomatis kesempatan membeli.

Constant growth: Gordon Growth Model

Dt = D0 × (1 + g)t;   D1 = D0 × (1 + g)
P0 = D1 ÷ (ke − g), dengan ke > g

g adalah pertumbuhan dividen konstan dan harus lebih rendah daripada ke. Dengan g = 4,5%, D1 = Rp354 × 1,045 = Rp369,93. Maka P0 = Rp369,93 ÷ (12% − 4,5%) = Rp4.932,40. Gunakan angka penuh dalam proses, lalu bulatkan hasil akhir.

Pertumbuhan konstan selamanya harus masuk akal untuk perusahaan matang. Ketika g mendekati ke, nilai membesar tajam; jika g sama atau lebih tinggi, rumus perpetuitas ini tidak berlaku. Jangan memaksakan model agar hasilnya terlihat menarik.

Variable growth: pertumbuhan bertahap

Anggap dividen perusahaan X tumbuh 10% selama tiga tahun, kemudian 4,5% seterusnya. Pertumbuhan awal dan stabil berbeda, tetapi biaya ekuitas tetap 12% dalam latihan ini.

Dt = D0 × (1 + g1)t, untuk t = 1 sampai N
Proyeksi dummy; rupiah per saham
TahunDividenNilai sekarang
1389,40347,68
2428,34341,47
3471,174335,37
DN+1 = DN × (1 + g2)
PN = DN+1 ÷ (ke − g2)
P0 = Σt=1…N [Dt ÷ (1 + ke)t] + PN ÷ (1 + ke)N

D4 = Rp471,174 × 1,045 = Rp492,37683. Nilai terminal pada akhir tahun ketiga adalah Rp6.565,02; nilai sekarangnya Rp4.672,85. Tambahkan nilai sekarang tiga dividen sebesar Rp1.024,52, sehingga estimasi menjadi Rp5.697,38 per saham. Dividen tahun keempat berada dalam nilai terminal dan tidak dijumlahkan lagi secara terpisah.

Valuasi saham dengan free cash flow

Arus kas operasi perusahaan dialokasikan untuk investasi, kreditor, dan pemegang saham
Bedakan kas untuk seluruh penyedia modal dari kas untuk pemegang saham.

Valuasi saham perusahaan yang tidak membayar dividen tetap bisa dilakukan melalui arus kas. Namun, istilah FCF harus diperjelas. Rumus kas operasi dikurangi CapEx merupakan ukuran praktis, tetapi tidak otomatis FCFF yang konsisten dengan WACC; klasifikasi bunga dan pajak perlu diperiksa.

FCF praktis = Arus kas operasi (CFO) − CapEx

Jika kas operasi sudah dikurangi seluruh bunga yang relevan, pendekatan FCFF = CFO + bunga setelah pajak − CapEx dapat digunakan setelah rekonsiliasi. Jangan menambahkan bunga kembali jika belum mengurangi CFO.

FCFF = EBIT × (1 − T) + D&A − CapEx − ΔNWC

EBIT adalah laba operasi sebelum bunga dan pajak; EBIT × (1 − T) merupakan NOPAT. D&A adalah depresiasi dan amortisasi, CapEx belanja modal, serta ΔNWC kenaikan modal kerja operasi nonkas, tanpa utang berbunga. Kenaikan ΔNWC mengurangi kas. Gunakan kebutuhan reinvestasi yang mendukung proyeksi pertumbuhan.

FCFE = Laba bersih + D&A − CapEx − ΔNWC + Penerbitan utang neto

Rumus FCFE sederhana di atas diasumsikan tanpa saham preferen; penerbitan utang neto adalah utang baru dikurangi pelunasan. Jika FCFE didiskontokan dengan ke, hasilnya langsung nilai ekuitas dan utang tidak dikurangkan lagi. Berikut kita memakai jalur FCFF.

Nilai operasi = Σt=1…N [FCFFt ÷ (1 + WACC)t] + TVN ÷ (1 + WACC)N

Contoh dummy perusahaan Y: FCFF lima tahun berturut-turut Rp350, Rp378, Rp412, Rp447, dan Rp482 miliar; WACC 10,34%; pertumbuhan stabil 4% mulai tahun keenam. Syaratnya g lebih rendah daripada WACC, dengan mata uang dan asumsi inflasi yang konsisten.

FCFFN+1 = FCFFN × (1 + g)
TVN = FCFFN+1 ÷ (WACC − g)

FCFF6 = Rp482 × 1,04 = Rp501,28 miliar. TV5 = Rp501,28 ÷ (10,34% − 4%) = Rp7.906,62 miliar. Setelah mendiskontokan lima FCFF dan nilai terminal, diperoleh nilai operasi Rp6.364,85 miliar. FCFF tahun kelima dihitung satu kali; nilai terminal dimulai dari tahun keenam.

Nilai ekuitas biasa = Nilai operasi + Kas berlebih + Aset nonoperasi lain − Utang berbunga − Saham preferen − Kepentingan nonpengendali − Klaim lain
Nilai per saham = Nilai ekuitas biasa ÷ Jumlah saham biasa yang relevan

Asumsikan utang berbunga bernilai pasar Rp2.250 miliar, saham preferen Rp300 miliar, kas berlebih nol, tanpa kepentingan nonpengendali atau klaim lain, dan saham biasa 600 juta lembar. Nilai ekuitas biasa = Rp6.364,85 − Rp2.250 − Rp300 = Rp3.814,85 miliar. Nilai per saham = (Rp3.814,85 miliar × 1.000 juta/miliar) ÷ 600 juta = sekitar Rp6.358,08.

Utang berbunga berbeda dari total liabilitas: utang usaha yang sudah memengaruhi modal kerja tidak boleh otomatis dikurangkan kembali. Kas berlebih hanya ditambahkan jika belum masuk nilai operasi. Untuk grup konsolidasi, perlakukan kepentingan nonpengendali secara konsisten. Model FCFF umum juga perlu penyesuaian khusus untuk bank dan perusahaan jasa keuangan.

Valuasi saham dengan rasio pasar dan nilai aset

Book value dan Price to Book Value

BVPS = Ekuitas yang menjadi hak pemegang saham biasa ÷ Saham biasa beredar
PBV = Harga pasar per saham ÷ BVPS

Contoh dummy: aset Rp4.510 miliar, liabilitas Rp2.250 miliar, ekuitas preferen Rp300 miliar yang belum masuk liabilitas, tanpa kepentingan nonpengendali, dan 600 juta saham biasa. Ekuitas biasa Rp1.960 miliar, sehingga BVPS = Rp3.266,67. Pada harga Rp4.125, PBV = 1,26 kali. Jika preferen sudah diklasifikasikan sebagai liabilitas, jangan kurangi dua kali.

Nilai buku merupakan ukuran akuntansi, bukan uang yang pasti diterima bila aset dijual. Seperti membeli restoran, kita menilai kemampuan usaha menghasilkan laba, bukan hanya panci dan meja. PBV rendah dapat menunjukkan harga relatif rendah, tetapi juga masalah kualitas aset atau profitabilitas. PBV tidak bermakna dengan cara biasa ketika ekuitas negatif.

Liquidation value

Nilai likuidasi per saham = Sisa hasil penjualan aset setelah biaya, pajak, dan seluruh klaim prioritas ÷ Saham biasa beredar

Jika estimasi hasil penjualan aset Rp4.300 miliar, seluruh kewajiban Rp2.250 miliar, klaim preferen Rp300 miliar, dan biaya likuidasi diasumsikan nol, sisa untuk saham biasa Rp1.750 miliar. Dengan 600 juta saham, estimasinya Rp2.916,67 per saham. Dalam praktik, biaya, pajak, waktu penjualan, dan urutan prioritas klaim dapat mengurangi hasil.

Nilai likuidasi bukan batas bawah harga yang dijamin. Jika klaim prioritas menghabiskan hasil penjualan, pemegang saham biasa bisa menerima nol. Nilai operasi di bawah estimasi likuidasi juga tidak otomatis berarti perusahaan harus ditutup; asumsi, biaya, dan konsekuensinya tetap perlu ditelaah.

Price Earnings Ratio dan multiple pembanding

EPS = Laba yang tersedia untuk pemegang saham biasa ÷ Rata-rata tertimbang saham biasa beredar
PER = Harga pasar per saham ÷ EPS
Nilai indikatif per saham = EPS yang relevan × PER pembanding yang sepadan

Laba untuk pemegang saham biasa Rp345 miliar dibagi rata-rata tertimbang 600 juta saham menghasilkan EPS Rp575. Pada harga Rp4.125, PER = 7,17 kali. Jika EPS proyeksi Rp575 dan PER pembanding dummy 7,18 kali, nilai indikatif = Rp4.128,50. PER pembanding ini bukan angka industri aktual.

Gunakan laba bersih yang menjadi hak pemegang saham biasa setelah hak preferen, bukan NOPAT. Cocokkan PER historis dengan EPS historis atau PER forward dengan EPS proyeksi. Periksa dilusi, laba sekali jalan, dan siklus usaha. PER rendah tidak otomatis murah; jika perusahaan merugi, PER lazimnya tidak berguna untuk perbandingan biasa.

Mengecek data aktual dan sensitivitas

Ambil laporan keuangan serta catatan terbaru dari halaman laporan keuangan BEI atau situs hubungan investor emiten. Cocokkan periode, mata uang, satuan, tanggal harga, dividen, dan jumlah saham setelah aksi korporasi. Untuk rasio pembanding, gunakan statistik BEI dan periksa definisi serta cakupan sektor pada publikasi yang dipilih.

Untuk valuasi saham dengan rasio pasar, pembanding sebaiknya memiliki bisnis, risiko, dan pertumbuhan yang mirip. Jangan langsung memakai rata-rata industri tanpa menelaah perusahaan merugi atau pencilan. Catat apakah data tahunan, trailing twelve months, atau proyeksi.

Uji beberapa asumsi untuk valuasi saham. Dengan D0 Rp354, model Gordon menghasilkan sekitar Rp5.691 pada ke 11% dan g 4,5%, tetapi sekitar Rp4.352 pada ke 13% dengan g sama. Selisih ini menunjukkan mengapa rentang nilai lebih berguna daripada satu angka yang terlihat pasti.

Penutup

Tidak ada satu metode yang selalu paling tepat. Pilih DDM untuk kebijakan dividen yang representatif, FCFF atau FCFE untuk arus kas yang bisa diproyeksikan, lalu gunakan rasio serta nilai aset sebagai pembanding sesuai konteks bisnis.

Bagi saya, manfaat utama valuasi saham adalah membuat alasan kita lebih jelas: asumsi apa yang dipakai, risiko apa yang belum tercakup, dan seberapa besar hasil berubah jika asumsi meleset. Bandingkan beberapa pendekatan tanpa merata-ratakan hasilnya secara buta. Semoga membantu kita membaca harga dengan lebih tenang.

Source

This post is also available in: English

Share This Article
Follow:
Daniel, S.T., MBA, lahir dan besar di Sumatra. Berlatar pendidikan teknik kimia dan Master of Business Administration (MBA). Di danieel.id, saya menulis tentang keuangan dan analisis perusahaan, serta catatan pribadi tentang Islam, sains, sejarah, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari. Tulisan kesehatan di sini bersifat edukasi umum dan disusun dari sumber tepercaya, bukan pengganti saran tenaga medis.
Tidak ada komentar