Wisata kuliner Palembang tentu tidak berhenti pada pempek. Kota tempat saya lahir dan dibesarkan ini menyimpan banyak hidangan lain yang selalu berhasil memanggil pulang ingatan: burgo untuk sarapan, pindang yang segar, nasi minyak yang kaya rempah, sampai duren yang berserakan saat musimnya tiba.
Tulisan ini berasal dari catatan perjalanan saya pada Desember 2013. Jadi, anggaplah daftar ini sebagai jejak rasa dan pengalaman pribadi saya pada waktu itu, bukan daftar alamat dan jam buka terkini. Sebelum berangkat, ada baiknya memeriksa kembali lokasi serta status usahanya. Namun, soal rasa yang melekat di ingatan saya? Nah, itu masih sulit digeser.
Inilah 14 tempat wisata kuliner Palembang yang paling membekas bagi saya. Yuk, kita mulai berkeliling kota tercinta ini—dan sebaiknya jangan dalam keadaan terlalu lapar.
Warung Kopi H. Madina Kuto
Untuk mencari sarapan khas Palembang, pilihan saya jatuh pada Warung Kopi H. Madina di Jalan Dr. M. Isa, kawasan Pasar Kuto. Pada perjalanan 2013 itu, warung ini menyediakan burgo, lakso, laksan, celimpungan, pempek, tekwan, lupis, ketan, srikaya, serta beragam kue. Warungnya laris; dahulu saya menyarankan datang sebelum pukul enam agar tidak kehabisan.

Burgo dan lakso sama-sama dibuat dari tepung beras dan sagu. Burgo berbentuk gulungan pipih, sedangkan lakso menyerupai mi. Keduanya terasa lembut dalam kuah santan dan ikan; sedikit sambal serta bawang goreng membuatnya cocok menemani kopi pagi.
Walau pilihannya banyak, yang paling mantap bagi saya justru nasi uduknya. Entah kenapa nasi uduk yang dibungkus daun pisang terasa lebih nikmat. Gurih santannya pas, lalu bertemu ikan teri, irisan telur dadar, emping, dan sambal. Rasanya membawa lidah saya bernostalgia ke masa kecil di kota ini.
Martabak HAR

Bagi saya, perjalanan ke Palembang belum lengkap tanpa Martabak HAR. Nama HAR merupakan singkatan dari Haji Abdul Rozak. Dalam perjalanan ini saya memilih gerai di Jalan Jenderal Sudirman, Simpang Sekip, yang lokasinya dekat dengan kediaman almarhum.
Martabaknya berisi telur ayam atau bebek, kemudian disiram kari kentang dan ditemani kuah cuka serta irisan cabai rawit. Satu porsinya cukup nendang untuk menenangkan perut yang mulai keroncongan.
Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei Z.

Siapa yang tidak tergoda oleh mi besar menyerupai spageti, kuah santan dan udang yang kental, lalu taburan udang, bawang goreng, telur rebus, serta tauge? Pada catatan saya, rasa udangnya kuat dan kuahnya gurih kemerahan. Jika masih kurang, waktu itu tersedia tambahan udang yang disajikan terpisah.
Lokasinya berada di Jalan K.H. Ahmad Dahlan, dekat Pasar 26 Ilir. Menurut saya, mi celor ini paling nikmat disantap sebagai sarapan setelah berjalan atau berolahraga di Kambang Iwak yang tidak terlalu jauh. Pada masa mudik Lebaran, saya pernah melihat pengunjungnya sampai meluber ke tenda di area parkir.
Rumah Makan Sri Melayu

Kalau berbicara tentang pindang Palembang, salah satu tempat yang saya sukai adalah Rumah Makan Sri Melayu di Jalan Demang Lebar Daun, dekat Griya Agung. Tempatnya luas, nyaman, dan saat itu menyajikan pindang patin, baung, ikan salai, udang, tulang, brengkes patin, ikan saluang goreng, sambal, serta lalapan.
Pindangnya disajikan tetap panas dengan irisan nanas, tomat, cabai, dan daun kemangi. Selain patin, saya menyarankan pindang ikan salai. Rasa asap yang gurih bertemu kuah asam-manis, nasi hangat, dan sambal mangga atau embem. Sulit rasanya menahan diri untuk tidak menambah—he-he.
Pindang Sophia Kertapati

Sekarang kita menyeberangi Sungai Musi menuju Pindang Sophia di Kertapati. Dalam catatan perjalanan saya, rumah makan ini berada di Jalan K.H.M. Asyik dan dikenal dengan udang satang berukuran besar. Tersedia pula pindang patin, pindang baung, brengkes, ikan patin goreng, sambal, dan lalapan.
Kuah pindangnya tampak lebih kemerahan dengan daun kemangi dan daun bawang. Makan di sini terasa makin mantap ditemani kemplang panggang yang gurih—teraso nian iwaknyo.
Pindang Musi Rawas

Pindang Musi Rawas yang saya kunjungi berada di Jalan Angkatan 45. Rumah makannya tidak terlalu besar dan tempat parkirnya terbatas. Karena itu, pada waktu tersebut saya lebih suka datang sebelum pukul sebelas siang.
Pilihan pindangnya beragam dan disajikan bersama sambal serta lalapan.
Rumah Makan Linggau

Tempat makan pindang lain yang patut dicoba menurut saya adalah Rumah Makan Linggau, di simpang empat Jalan Radial. Selain pindang, dua menu yang membekas dari catatan saya adalah brengkes patin dan pepes ikan peda.
Pindang Tulang Bu Darmin

Kalau berbicara tentang pindang tulang, pilihan saya waktu itu adalah Rumah Makan Bu Darmin di Jalan A. Yani, Plaju. Catatan lama saya juga menyebut cabang di Jalan Pangeran Ayin, Kenten; tentu lokasinya perlu diperiksa lagi sebelum berkunjung.
Yang dipindang kali ini bukan ikan, melainkan tulang sapi dengan daging yang masih melekat. Kuahnya terasa lebih kental dan manis daripada pindang ikan, dilengkapi kemangi, tomat, daun bawang, serta cabai rawit. Pedas segarnya menjadi penyeimbang rasa manis kuah.
Nasi Minyak H. Abuk

Bosan dengan pindang? Yuk, kita beralih ke nasi minyak di Rumah Makan H. Abuk, yang dalam perjalanan saya berada di Jalan Dr. M. Isa, 8 Ilir, dekat Pasar Kuto. Nasi berbumbu minyak samin ini makin lengkap bersama malbi sapi, kari kambing, sate pentol, burung punai goreng, sambal nanas, dan acar mentimun.
Nasinya pulen dengan gurih santan dan rempah yang kuat. Kari kambingnya membawa aroma cengkih, kapulaga, ketumbar, dan merica dalam paduan yang pas. Tempat parkir saat itu cukup sempit, sehingga saya memilih datang di luar puncak jam makan siang.
Pempek Saga Sudi Mampir

Setelah menu makan siang yang berat, waktunya camilan sore. Saya memilih Pempek Saga Sudi Mampir, yang saya kenal lewat pempek panggang dan lenggang bertekstur lembut dengan rasa ikan kuat. Pempek panggang—atau pempek tunu dalam bahasa Palembang—dibakar, sedangkan lenggang mencampurkan adonan dengan telur lalu memanggangnya dalam wadah daun pisang.
Pada perjalanan itu saya datang ke gerainya di Jalan Merdeka, seberang kantor wali kota. Rasa ikannya benar-benar terasa: teraso nian iwaknyo. Teksturnya lembut, nikmat bersama cuko pedas, lalu ditutup es kacang merah untuk memadamkan “kebakaran” kecil di lidah.
Tekwan Wak Aba Bukit Besar

Tekwan adalah hidangan ikan berkuah kaldu udang, biasanya ditemani jamur kuping dan irisan bengkuang. Salah satu yang paling enak menurut saya adalah Tekwan Wak Aba di Jalan Srijaya Negara, Bukit Besar.
Buliran tekwannya kenyal, lalu berpadu dengan kuah berisi irisan udang, jamur kuping, bengkuang, daun bawang, dan bawang goreng. Pada kunjungan saya, jarang sekali menemukan kuah tekwan dengan irisan udang sebanyak di warung ini.
Es Kacang Merah Mamat Lapangan Hatta

Di siang Palembang yang panas, saya menuju Es Mamat, tidak jauh dari Lapangan Hatta. Tempatnya sederhana, berupa gerobak kaki lima, tetapi rasa es kacang merahnya membuat orang rela mencarinya.
Kacang merah yang lembut dan manis bertemu es serut, susu, alpukat, serta cincau. Dahulu tersedia pula pempek panggang, lenggang, tekwan, dan model. Tempat boleh kaki lima, tetapi rasanya bintang lima, Bung.
Kerupuk dan Kemplang Suwandi

Olahan ikan di Palembang bukan hanya pempek. Kerupuk dan kemplang enak untuk camilan, teman makan nasi, sekaligus oleh-oleh. Pilihan saya adalah Kerupuk dan Kemplang Suwandi. Rasanya mantap; dengan kemplang dan sambal saja, sepiring nasi bisa ludes.
Catatan 2013 saya menempatkan tokonya di Jalan Letkol Iskandar dan menyebut cabang di Jalan Pengadilan Lama, 15 Ilir. Pilihannya antara lain berbahan ikan belida, ikan putak, udang, dan cumi.
Pesta Duren Palembang
Sebagai penutup, kalau datang saat musim duren, jangan lewatkan kesempatan berpesta. Di sini duren-duren belamburan saking banyaknyo. Pada perjalanan saya, pedagang mudah ditemukan di sekitar Pasar Kuto, Pasar 26 Ilir, Jalan Rajawali, dan Jalan Demang Lebar Daun.
Banyak hidangan Palembang juga memakai durian, seperti tempoyak, brengkes, dan lempok. Jadi, satu buah bisa menjadi penutup perjalanan, sementara hasil olahannya membuka babak makan berikutnya. Ya, wisata kuliner memang kadang tidak mengenal kata selesai.

Catatan Sebelum Berwisata Kuliner
Karena daftar ini berangkat dari perjalanan Desember 2013, periksa kembali alamat, jam buka, menu, dan status usaha sebelum berangkat. Saya sengaja mempertahankan urutan tempat, kesan rasa, serta suasana yang saya alami, tetapi tidak ingin catatan lama terbaca sebagai informasi operasional yang pasti masih berlaku.
Beberapa istilah khas yang muncul di tulisan ini juga dapat ditemukan dalam Kamus Bahasa Palembang. Lumayan, supaya ketika mendengar teraso nian iwaknyo, kita tidak hanya mengangguk sambil pura-pura paham.
Penutup
Itulah 14 tempat wisata kuliner Palembang yang paling membekas dalam perjalanan saya. Daftar ini tentu sangat personal: ada rasa yang membawa saya pulang ke masa kecil, ada tempat sederhana yang membuat saya terkejut, dan ada pula hidangan yang membuat rencana diet mendadak kehilangan arah.
Kalau kamu punya tempat makan lain di Palembang yang menarik untuk dicoba, silakan tuliskan di kolom komentar. Sekian dulu—yuk, wisata kuliner ke Palembang!
This post is also available in:



