Sabtu, April 18, 2026
BerandafinanceMemahami Rasio Rasio Keuangan Untuk Analisa Kinerja Perusahaan

Memahami Rasio Rasio Keuangan Untuk Analisa Kinerja Perusahaan

B. Activity Ratios

1. Inventory Turnover

Inventory turnover adalah rasio yang menunjukkan tingkat perputaran Inventory dalam satu periode tertentu (misalnya satu tahun).

Rasio ini diperoleh dengan membagi nilai Cost of goods sold (COGS) dengan Inventory

inventory turnover

Dari Income Statement dan Balance Sheet “danieel.id Company” , pada tahun 2019, kita dapat menghitung Inventory Turnover nya =  $4.355/$560 = 7,74

Ini artinya dalam satu tahun, terjadi 7,7 kali perputaran inventory di Perusahaan ini.

Pendekatan lain yang biasa dipakai untuk mengukur aktifitas ini adalah average age of inventory, yaitu dengan membagi jumlah hari dalam setahun (365) dengan rasio inventory turnover.

Pada Case “danieel.id Company” ini berarti 365/7,74 = 47,2 hari.

Ini berarti rata rata inventory di Perusahaan ini bertahan 47 hari sebelum akhirnya terjual.

Range atau nilai ideal untuk angka ini tentu bervariasi sesuai jenis bisnis dan produknya. Toko atau Perusahaan makanan/minuman misalnya yang produk produk nya relatif lebih cepat rusak sehingga harus cepat dijual, akan memiliki nilai Inventory Turnover yang lebih tinggi dibanding misalnya Perusahaan Otomotif.

- Advertisement -

2. Average Collection Period

Average Collection Period adalah rasio yang menujukkan rata rata umur piutang (account receivable) di suatu Perusahaan.

Rumus Rasio ini adalah sebagai berikut :

average_collection_period

Kita terapkan rumus ini pada “danieel.id Company, maka diperoleh Average Collection Period Perusahaan ini Tahun 2019 adalah $920 /($6.115/365) = 54,91 hari.

Angka ini berarti rata rata butuh 54,9 hari untuk perusahaan “danieel.id Company” mengumpulkan (meng-collect)  piutang nya.

Angka ini sangat terkait dengan kebijakan credit-term (atau term of payment yang diberikan ke customer) yang diterapkan oleh Perusahaan tersebut, Jika katakanlah sebagian besar customer diberikan term of payment 60 hari, maka angka average collection days 54,9 hari adalah angka yang cukup bagus, karena berarti rata rata customer membayar lebih cepat dari due-date hutang nya.

Akan tetapi jika sebagian besar term of payment yang diberikan Perusahaan ini kepada customer nya dalah 30 hari, maka angka 54,9 hari adalah angka kinerja collection performance yang buruk.

(dibawah nanti akan kita bandingkan juga secara time-series dan angka rata rata industri sejenis)

Term of payment adalah bagian dari strategi penjualan Perusahaan, dan sangat tergantung juga dengan situasi kompetisi di pasar, di satu sisi Perusahaan harus memberikan penawaran yang menarik kepada customer (baik dari sisi harga jual maupun term of payment) , sementara disi lain penjualan kredit dapat juga dipandang semacam memberikan hutang tanpa bunga kepada customer. dua sisi ini harus dapat diseimbangkan dan dikelola dengan baik.

Catatan : sales yang dimaksud pada formula Average Collection Period ini dapat berupa total sales maupun hanya credit-sales. Makna nya akan sedikit berbeda.

Jika yang digunakan total sales (cash & credit sales) akan diperoleh nilai rata rata collection atas penjualan suatu Perusahan secara keseluruhan, semakin banyak penjualan dilakukan secara cash, nilai average collection period nya akan semakin menurun.

Ini lebih mudah dilakukan untuk membandingkan nilai beberapa Perusahaan sejenis, karena pada Laporan keuangan perusahaan (pada bagian Income Statement), Sales Revenue tidak dibedakan apakah berasal dari credit sales atau cash sales.

- Advertisement -

Akan tetapi angka yang diperoleh dengan cara ini tidak dapat digunakan secara spesifik untuk menilai kinerja suatu Perusahaan dalam meng-collect piutang nya (account receivable), dan menjadi kurang relevan jika dibandingkan dengan durasi term of payment yang diberikan oleh Perusahaan tersebut untuk penjualan credit nya.

Jika diperlukan untuk menilai Kinerja suatu Perusahaan dalam meng-collect piutang nya (account receivable), nilai sales yang digunakan adalah credit sales (Penjualan yang dilakukan secara kredit).

3. Average Payment Period

Average Payment Period adalah rasio yang menujukkan rata rata umur hutang kepada vendor (account payable) di suatu Perusahaan.

Rumus Average Payment Period adalah sebagai berikut :

average_payment_period

Agak sulit menghitung nilai ini langsung dari Laporan Keuangan suatu Perusahaan, karena nilai annual purchase tidak tercantum laporan tersebut. Umumnya pendekatan nilai annual purchase adalah persentase tertentu dari Cost of goods sold (COGS).

Untuk case “danieel.id Company” mari asumsikan annual purchase nya adalah 65% dari nilai COGS, maka di tahun 2019 nilai Average Payment Period Perusahaan ini adalah : $453/ ((0,65 x $4.335)/365)) = 41,6 hari.

Sama seperti Average Collection Period, angka ini akan lebih bermakna jika dibandingkan dengan credit-term yang diberikan oleh Supplier ke perusahaan ini.

Jika rata rata Supplier memberikan credit-term (term of payment) selama 60 hari, maka angka 41,6 hari adalah bagus, karena Perusahaan ini membayar lebih cepat, demikian juga sebaliknya jika rata rata credit-term yang diberikan oleh supplier 30 hari, maka credit-rating Perusahaan ini akan buruk, karena terlalu lama membayar tagihannya.

Dalam sudut pandang lain, secara cash flow, angka Average Payment Period ini juga dapat dibandingkan dengan Average Collection Period,

Jika Average Collection Period dapat dipandang semacam memberikan hutang tanpa bunga kepada customer, maka Average Collection Period adalah sebaliknya, dapat dipandang semacam diberi hutang oleh supplier tanpa bunga.

Dalam case “danieel.id Company” ditahun 2019, Average Payment Period nya 41,60 hari,  lebih kecil dari Average Collection Period-nya (54,91 hari).

Jika dipandang dari sudut pandang ini, secara cash flow, Average Payment Period ini kurang bagus, karena perusahaan membayar hutang (account payable) lebih cepat daripada kemampuan perusahaan meng-collect piutang (account receivable) nya.

(dibawah nanti akan kita bandingkan juga secara time-series dan angka rata rata industri sejenis)

4. Total Asset Turnover

Total Asset Turnover adalah rasio yang mengindikasikan tingkat efektifitas perusahaan dalam menggunakan aset aset nya untuk menghasilkan penjualan.

Rumus nya adalah sebagai berikut :

total_assets_turnover

Dari Income Statement dan Balance Sheet “danieel Company”, dapat kita hitung Total Asset Turnover perusahaan ini tahun 2019 adalah :  $6.115 / $11.025 = 0,55

Secara umum, semakin besar angka ini berarti semakin baik.

Jika perusahaan banyak memiliki aset, tetapi aset-nya sebagian besar tidak produktif dan tidak mendukung peningkatan penjualan, maka rasio ini akan cendrung lebih kecil dibanding Industri sejenis.

Summary Activity Ratios

Berikut summary Activity Ratios “danieel.id Company” jika dibandingkan dengan tahun sebelum nya (time-series) dan rata rata industri sejenis.

activity ratios
“danieel.id Company” activity ratios 2019

Dapat kita lihat pada tabel diatas, untuk Inventory Turnover, Kinerja “danieel.id Company” 2019 meningkat dibanding tahun sebelumnya, dan rasio nya (7,74) lebih baik dibanding kan rata rata industri sejenis tahun 2019 (6,6).

- Advertisement -

Untuk Average Collection Period, tahun 2019 angkanya meningkat menjadi 54,91 hari, dibanding tahun sebelumnya 47,59 hari,

Ini tentu indikasi yang kurang bagus, menunjukkan bahwa Perusahan di tahun pelaporan (2019) membutuhkan waktu lebih lama untuk meng-collect piutang (accout receivable) nya.

Hal ini bisa saja dikarenakan beberapa customer terlambat dalam melakukan pembayaran, atau bisa juga karena Perusahaan memang sengaja memperlonggar kebijakan term of payment nya untuk menarik customer ditengah ketatnya kompetisi.

Jika dibandingkan dengan rata rata Industri sejenis (44,3 hari), rasio Average Collection Period tahun 2019 juga lebih tinggi, hal ini dapat menjadi warning bagi Perusahaan ini untuk memperbaiki kinerja collection piutang nya.

Untuk Average Payment Period, pada tabel diatas kita lihat angkanya menurun dibanding tahun sebelumnya, (dari 51,31 hari ditahun 2018 menjadi 41,60 hari ditahun 2019), ini secara umum dapat dikatakan baik ditinjau dari credit-rating, karena Perusahaan pada tahun pelaporan melakukan pembayaran lebih cepat kepada supplier. Angka ini juga jauh lebih rendah dibanding rata rata industri sejenis (66,5 hari).

Akan tetapi seperti kita bahas sebelumnya, membayar supplier terlalu cepat (dibandingkan Average Collection Period) dapat membebani cash flow Perusahaan.

Untuk Total Asset Turnover, Kinerja Perusahaan tahun 2019 sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya (0,55 di tahun 2019 dibandingkan 0,57 ditahun 2018), dan rasio ini juga lebih rendah dibandingkan rata rata industri sejenis (0,75). 

Hal ini menunjukkan bahwa Perusahan belum cukup efektif menggunakan aset aset nya dalam menghasilkan penjualan.

Bisa saja ini dikarenakan sebagian Aset Perusahaan merupakan aset tidak produktif, atau aset yang kurang berperan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk meningkatkan penjualan.

Rasio Total Asset Turnover yang rendah bisa juga disebabkan antara lain karena kapasitas produksi pabrik belum dimaksimalkan.

(hal ini misalnya karena salah kalkulasi, membangun Pabrik dengan kapasitas yang lebih besar dari demand, atau Penjualan yang tidak sebesar yang di perkirakan semula)

Atau bisa juga karena Perusahaan baru melakukan investasi baru (sedang membangun Pabrik baru atau membali mesin mesin baru), dimana Pabrik atau mesin baru ini masih dalam tahap konstruksi, sehingga belum berperan dalam menghasilkan produk untuk meningkatkan penjualan.

Rasio Total Asset Turnover ini dapat menjadi warning untuk management Perusahaan untuk lebih efektif dan efisien lagi dalam mendaya-gunakan  aset-aset eksiting Perusahaan untuk menghasilkan penjualan, cermat dalam memilih investasi baru yang tepat (yang memberikan return paling baik), termasuk jika diperlukan mempertimbangkan untuk divestasi (menjual) aset aset yang kurang produktif.

Selanjutnya mari kita bahas Debt Ratios di halaman halaman 3

This post is also available in: English

Daniel
Danielhttps://danieel.id
Lahir di Palembang pada bulan November 1981, saya menyelesaikan S1 di Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya, dan S2 Master of Business Administration (MBA) di Sekolah Bisnis Management Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB). Bekerja di salah satu BUMN dan tinggal di daerah Jakarta Selatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Recent Articles

Most Popular

Recent Comments

>