Perbedaan EBITDA dan Net Profit

Daniel
7 Min Read

Dua indikator profitabilitas dengan tujuan berbeda dan cara membacanya bersama-sama.

Perbedaan EBITDA dan net profit sering terasa membingungkan karena keduanya sama-sama dipakai untuk membicarakan keuntungan perusahaan. EBITDA membantu kita melihat hasil operasi sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi diperhitungkan. Net profit menunjukkan laba akhir setelah seluruh unsur tersebut masuk ke perhitungan.

Jadi, keduanya tidak saling menggantikan. EBITDA berguna untuk menyoroti kemampuan operasi, sedangkan net profit memperlihatkan hasil yang tersisa bagi perusahaan setelah semua beban.

Supaya lebih mudah dipahami, saya menggunakan contoh laporan laba rugi perusahaan imajiner danieel.id/ (yang pernah saya tulis sebelumnya dalam artikel : Memahami 4 Jenis Laporan Keuangan Perusahaan )

Contoh laporan laba rugi perusahaan imajiner

Contoh laporan laba rugi perusahaan imajiner danieel.id
Contoh Laporan Income Statement perusahaan imajiner danieel.id/. Seluruh angka dalam ribu USD.

Dari laporan laba rugi tersebut, penjualan tahun 2019 mencapai $6.115, naik 12% dari $5.476 pada 2018. Namun, cost of goods sold naik lebih cepat, yaitu 15%, dari $3.776 menjadi $4.335. Akibatnya, gross profit hanya meningkat 5%, dari $1.700 menjadi $1.780. Ini mengingatkan kita bahwa kenaikan penjualan belum tentu diikuti kenaikan margin yang sama baiknya.

Total operating expense naik dari $807 menjadi $845. Setelah dikurangi dari gross profit, operating profit atau EBIT meningkat dari $893 menjadi $935. Perusahaan juga mencatat other income sebesar $11 dan interest expense sebesar $199. Net profit before taxes menjadi $747, lalu setelah pajak $187, net profit after taxes tercatat $560.

Pada 2018, net profit after taxes adalah $536. Dengan demikian, laba bersih naik sekitar 4%. EBITDA pada laporan tersebut meningkat dari $1.136 menjadi $1.194, atau sekitar 5%.

Cara menghitung EBITDA dari contoh

EBITDA merupakan singkatan dari earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization.

Pada contoh tahun 2019, cara paling langsung adalah menambahkan kembali depresiasi dan amortisasi ke operating profit:

EBITDA = Operating profit + Depreciation & amortization
EBITDA = $935 + $259 = $1.194

Kita juga dapat mulai dari net profit after taxes, tetapi other income harus diperhatikan agar rekonsiliasinya konsisten:

EBITDA = Net profit + Taxes + Interest + Depreciation & amortization − Other income
EBITDA = $560 + $187 + $199 + $259 − $11 = $1.194

Untuk 2018, perhitungannya adalah $893 + $243 = $1.136.

Mengapa depresiasi dan amortisasi ditambahkan kembali?

Depresiasi adalah alokasi biaya aset berwujud selama umur ekonomisnya, sedangkan amortisasi menerapkan konsep serupa pada aset tak berwujud. Keduanya merupakan expense yang menurunkan laba, tetapi bukan pembayaran kas kepada pihak lain pada periode pencatatan.

Itulah sebabnya depresiasi dan amortisasi ditambahkan kembali ketika menghitung EBITDA. Namun, bukan berarti biaya tersebut boleh diabaikan. Mesin, kendaraan, perangkat, dan aset lain tetap mengalami penurunan manfaat serta pada waktunya perlu diperbaiki atau diganti. EBITDA yang besar belum otomatis berarti kebutuhan belanja modalnya kecil.

Perbedaan EBITDA dan net profit yang utama

AspekEBITDANet profit
Yang diukurKinerja sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasiLaba akhir setelah seluruh pendapatan dan beban
Bunga dan pajakDitambahkan kembaliSudah diperhitungkan
Depresiasi dan amortisasiDitambahkan kembaliMengurangi laba
Kegunaan utamaMembandingkan kemampuan operasiMenilai laba akhir dan dasar EPS

Secara praktis, perbedaan EBITDA dan net profit terletak pada seberapa jauh kita turun di laporan laba rugi. EBITDA berhenti sebelum beberapa komponen penting diperhitungkan, sedangkan net profit berada di bagian akhir. Karena itu, selisih keduanya dapat memberi gambaran tentang beratnya beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi perusahaan.

Kapan EBITDA berguna?

EBITDA membantu saat kita ingin membandingkan kemampuan operasi beberapa perusahaan dalam industri yang sama, terutama ketika struktur utang, tarif pajak, atau usia asetnya berbeda. Dalam contoh danieel.id/ Company, EBITDA tumbuh 5%, sedikit lebih cepat daripada net profit yang tumbuh 4%. Ini menunjukkan bahwa kinerja sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi membaik sedikit lebih cepat daripada laba akhirnya.

Tetapi EBITDA bukan arus kas. Angka ini belum memperhitungkan perubahan modal kerja, pembayaran bunga dan pajak, ataupun capital expenditure. Karena itu, saya tidak akan menilai kesehatan perusahaan hanya dari EBITDA. Baca juga laporan arus kas perusahaan agar terlihat berapa kas yang benar-benar dihasilkan.

Dalam konteks pelaporan, metode perhitungan juga perlu dijelaskan dengan terang. Panduan SEC mengenai ukuran non-GAAP menyatakan bahwa EBITDA perlu direkonsiliasi dengan net income. IFRS 18 tentang ukuran kinerja yang didefinisikan manajemen juga menekankan pentingnya penjelasan agar pembaca memahami ukuran yang digunakan perusahaan.

Kapan net profit lebih relevan?

Net profit menunjukkan hasil setelah seluruh biaya diperhitungkan. Angka ini menjadi dasar penting untuk menghitung earning per share (EPS), menilai potensi pembagian dividen, dan menentukan laba yang ditahan. Pada screenshot, net profit after taxes 2019 sebesar $560 dikurangi preferred stock dividends $30, sehingga earnings available for common stockholders menjadi $530.

Dengan 300.000 saham biasa yang beredar, EPS ditampilkan sebesar $1,77. Dividen untuk pemegang saham biasa berjumlah $156, sehingga dividend per share tercatat $0,52. Di sini terlihat bahwa net profit lebih dekat dengan kepentingan pemegang saham, meskipun net profit juga belum sama dengan kas.

Jangan memilih salah satu saja

Perusahaan dengan EBITDA tinggi belum tentu memiliki net profit atau arus kas yang kuat jika beban bunga, pajak, kebutuhan modal kerja, dan belanja modalnya besar. Sebaliknya, net profit satu tahun dapat dipengaruhi pendapatan atau beban non-operasional yang tidak berulang.

Saya lebih suka membaca keduanya bersama-sama: EBITDA untuk melihat mesin operasinya, net profit untuk melihat hasil akhirnya, lalu arus kas untuk memastikan laba tersebut benar-benar didukung kas. Penilaian menjadi lebih lengkap bila ditambah EBITDA margin, net profit margin, ROA, ROE, serta tren beberapa tahun. Anda juga dapat melihat hubungan angkanya melalui artikel cara membaca laporan laba rugi dan rasio keuangan perusahaan.

Kesimpulan

Kesimpulannya, perbedaan EBITDA dan net profit bukan soal mana yang selalu lebih baik. Keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Pada contoh perusahaan imajiner danieel.id/, EBITDA 2019 adalah $1.194 dan net profit after taxes $560. Gunakan angka pertama untuk memahami kemampuan sebelum komponen tertentu, lalu gunakan angka kedua untuk melihat laba setelah seluruh beban. Setelah itu, periksa laporan arus kas agar gambaran kondisi perusahaan tidak berhenti pada laba di atas kertas.

This post is also available in: English

Share This Article
Follow:
Daniel, S.T., MBA. Writing about Islam, science, health, IT, finance, history, and other topics as personal reflections — hoping they may also be of benefit to readers.
Tidak ada komentar
error: