Pernah melempar batu kecil ke kolam ikan, lalu memperhatikan riaknya menyebar, saling bertemu, dan membentuk pola yang indah? Pemandangan sesederhana itu ternyata menjadi kunci percobaan paling membingungkan dalam sejarah sains. Fisikawan peraih Nobel Richard Feynman bahkan menyebut percobaan ini menyimpan “satu-satunya misteri” dalam mekanika kuantum.
Nah, di sinilah eksperimen celah ganda naik ke panggung. Eksperimen celah ganda adalah percobaan menembakkan cahaya atau partikel sangat kecil, misalnya elektron, ke sebuah penghalang yang memiliki dua celah sempit, lalu mengamati pola yang terbentuk pada layar di belakangnya. Hasilnya menunjukkan bahwa benda-benda super kecil dapat berperilaku seperti gelombang sekaligus seperti partikel, tergantung bagaimana kita mengukurnya.
Yah, eksperimen celah ganda itu mirip bermain gundu (kelereng) di depan pagar papan yang punya dua celah. Kalau kelereng kita lempar berkali-kali, wajarnya di tembok belakang hanya ada dua kumpulan bekas tumbukan, tepat di belakang masing-masing celah. Sekarang bayangkan bekas tumbukan itu justru membentuk belang-belang seperti riak air kolam tadi. Aneh, bukan? Itulah yang terjadi pada elektron, dan fisikawan pun dibuat geleng-geleng kepala, he2x.
Sedikit catatan jujur: tulisan ini sengaja menyederhanakan fisika yang aslinya penuh matematika. Para fisikawan juga sepakat tentang hasil percobaannya, tetapi belum sepakat tentang makna terdalamnya.
Agar runtut, mari kita telusuri percobaan ini dari awal sampai maknanya bagi kita hari ini. Kita mulai dari seorang dokter sekaligus ilmuwan Inggris pada awal 1800-an.
Thomas Young Membuktikan Cahaya Berperilaku seperti Gelombang

Eksperimen celah ganda pertama kali dilakukan oleh ilmuwan Inggris Thomas Young pada dekade pertama abad ke-19, dan hasilnya menunjukkan bahwa cahaya yang melewati dua celah membentuk pola garis terang-gelap seperti gelombang air. Temuan ini menantang pandangan populer warisan Isaac Newton bahwa cahaya tersusun dari butiran kecil.
Cara kerjanya mirip dua batu yang dilempar bersamaan ke kolam. Di titik tempat puncak riak bertemu puncak, gelombang saling menguatkan dan menjadi garis terang. Di titik tempat puncak bertemu lembah, gelombang saling meniadakan dan menjadi garis gelap. Pola belang-belang inilah yang disebut pola interferensi.
Menurut ulasan sejarawan sains Robert P. Crease di Physics World, percobaan Young sering disebut terjadi pada 1801, walau uraian lengkapnya baru terbit pada 1807.
Elektron Ditembakkan Satu per Satu, Pola Gelombang Tetap Muncul

Ketika elektron ditembakkan satu per satu melalui dua celah, setiap elektron mendarat sebagai satu titik kecil di layar, tetapi kumpulan ribuan titik itu perlahan membentuk pola garis terang-gelap yang khas gelombang. Di sinilah eksperimen celah ganda berubah menjadi teka-teki terbesar fisika.
Versi elektron pertama kali dikerjakan Claus Jönsson di Tübingen, Jerman, pada 1961, lalu dengan elektron tunggal oleh tim Bologna, Italia, pada 1974. Versi paling terkenal datang dari tim Akira Tonomura di Hitachi, Jepang, dalam American Journal of Physics (1989). Mereka memakai biprisma elektron yang berfungsi seperti dua celah dan menjaga aliran di bawah 1.000 elektron per detik, sehingga tidak pernah ada dua elektron di dalam alat sekaligus.
Dengan 8 elektron, layar tampak acak; dengan 2.000 elektron, mulai tampak garis samar. Setelah sekitar 60.000 elektron dalam lebih dari 20 menit, pola interferensinya terlihat jelas. Hitungan kasarnya, rata-rata hanya sekitar 50 elektron per detik atau kurang, datang satu demi satu.

Yang bikin penasaran, jika setiap elektron datang sendirian, dengan apa ia berinterferensi? Menurut mekanika kuantum, sebelum mendarat setiap elektron berperilaku seolah-olah melewati kedua celah sekaligus sebagai gelombang kemungkinan, lalu “berinterferensi dengan dirinya sendiri”.
Begitu Jalurnya Diukur, Pola Interferensinya Menghilang

Jika sebuah detektor dipasang untuk mencatat celah mana yang dilewati setiap elektron, pola garis-garis interferensi lenyap. Dalam gambaran sederhana, layar dapat menampilkan dua pita, mirip dua kumpulan bekas tumbukan kelereng yang melewati masing-masing celah. (Namun, bergantung pada susunan alat, kedua sebaran ini bisa tampak terpisah atau bertumpang tindih menjadi satu daerah lebar.). Inilah bagian eksperimen celah ganda yang paling sering membuat orang terdiam.

Skenario ini diuraikan dalam The Feynman Lectures on Physics, Jilid III, Bab 1. Untuk mengetahui jalur elektron, kita harus “menyenggolnya”, misalnya dengan menyinarinya, dan senggolan yang cukup untuk mengungkap jalurnya ternyata cukup pula untuk menghapus pola interferensi. Niels Bohr menyebutnya komplementaritas: sifat gelombang dan partikel saling melengkapi, tetapi tidak bisa ditangkap penuh secara bersamaan.
Nah, perlu diluruskan: “pengamat” dalam fisika kuantum bukan berarti manusia yang sadar sedang melihat, melainkan interaksi fisik apa pun yang meninggalkan jejak informasi tentang jalur partikel, misalnya detektor atau foton. Jadi elektron tidak “malu” karena tahu sedang diintip; ia berubah perilaku karena benar-benar tersentuh alat ukur.
Bukan Hanya Elektron: Molekul Ribuan Atom pun Ikut Berinterferensi

Perilaku gelombang ternyata tidak hanya dimiliki cahaya dan elektron; molekul fulerena C60 berisi 60 atom karbon pada 1999, dan molekul berisi hingga 2.000 atom pada 2019, juga terbukti membentuk pola interferensi.
Tim Markus Arndt dan Anton Zeilinger dari Universitas Wina melaporkan interferensi molekul C60 di jurnal Nature (1999). Molekul ini berbentuk mirip bola sepak mungil. Dua dekade kemudian, kelompok yang sama memecahkan rekornya sendiri lewat studi Fein dkk. di Nature Physics (2019): molekul berisi hingga 2.000 atom dengan massa lebih dari 25.000 satuan massa atom.
Sebagai gambaran kasar, satu elektron bermassa sekitar 1/1.836 satuan massa atom. Jadi molekul seberat 25.000 satuan massa atom kira-kira 46 juta kali lebih berat daripada elektron, tetapi tetap “melewati dua celah sekaligus”. Lalu mengapa mobil kita tidak bisa melewati dua gerbang tol sekaligus? (Kalau bisa, antreannya pasti cepat selesai, he2x.) Jawabannya, panjang gelombang benda besar sangat kecil, dan benda besar terus berinteraksi dengan udara, cahaya, serta panas di sekitarnya, sehingga pola interferensinya terus terhapus. Proses ini disebut dekoherensi.
Perjalanan dua abad percobaan ini dirangkum pada tabel berikut.
| Tahun | Peneliti | Yang dilewatkan | Temuan penting |
|---|---|---|---|
| Awal 1800-an | Thomas Young | Cahaya | Cahaya membentuk pola interferensi seperti gelombang |
| 1961 | Claus Jönsson | Elektron | Elektron juga membentuk pola interferensi |
| 1989 | Tonomura dkk. | Elektron tunggal | Pola terbentuk bertahap dari elektron yang datang satu per satu |
| 1999 | Arndt, Zeilinger dkk. | Molekul C60 (60 atom) | Molekul juga berperilaku seperti gelombang |
| 2019 | Fein, Arndt dkk. | Molekul hingga 2.000 atom | Rekor interferensi benda bermassa di atas 25.000 satuan massa atom |
Artinya, hasil ini bukan kebetulan; ia terus berulang dengan benda yang makin besar.
Apa Kata Para Ilmuwan tentang Hasil Eksperimen Celah Ganda?

Para fisikawan besar abad ke-20 mengakui bahwa hasil eksperimen celah ganda sangat ganjil, dan kutipan mereka memadukan kekaguman, kebingungan, dan kerendahan hati.
Richard Feynman, peraih Nobel Fisika 1965, menulis dalam The Feynman Lectures on Physics bahwa percobaan ini adalah “a phenomenon which is impossible, absolutely impossible, to explain in any classical way, and which has in it the heart of quantum mechanics. In reality, it contains the only mystery.” (sebuah fenomena yang mustahil, benar-benar mustahil, dijelaskan dengan cara klasik mana pun, dan di dalamnya terdapat jantung mekanika kuantum. Sesungguhnya, ia memuat satu-satunya misteri.)
Dalam buku The Character of Physical Law (1965), Feynman juga berterus terang: “I think I can safely say that nobody understands quantum mechanics.” (Saya kira saya bisa dengan aman mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang memahami mekanika kuantum.)
Niels Bohr, peraih Nobel Fisika 1922, dikenang oleh muridnya Werner Heisenberg dalam buku Physics and Beyond pernah berkata: “Those who are not shocked when they first come across quantum theory cannot possibly have understood it.” (Mereka yang tidak terkejut ketika pertama kali berjumpa dengan teori kuantum, pasti belum memahaminya.)
Werner Heisenberg, peraih Nobel Fisika 1932, menulis dalam Physics and Philosophy (1958): “What we observe is not nature itself, but nature exposed to our method of questioning.” (Apa yang kita amati bukanlah alam itu sendiri, melainkan alam yang tersingkap oleh cara kita bertanya kepadanya.)
Albert Einstein justru gelisah. Abraham Pais mengenang dalam tulisannya di Reviews of Modern Physics (1979) bahwa Einstein suatu kali berhenti berjalan dan bertanya :
apakah Pais sungguh percaya bulan hanya ada ketika ia melihatnya.
Tidak heran, dalam jajak pendapat pembaca Physics World tahun 2002, eksperimen celah ganda dengan elektron terpilih sebagai eksperimen paling indah dalam fisika, sementara percobaan cahaya Thomas Young menempati peringkat kelima.
Makna Eksperimen Celah Ganda bagi Fisika Modern

Eksperimen celah ganda menjadi fondasi mekanika kuantum karena memperlihatkan tiga gagasan kunci sekaligus: dualitas gelombang-partikel, superposisi, dan sifat alam yang bekerja dengan peluang.
Dualitas gelombang-partikel berarti cahaya dan materi tidak bisa digolongkan hanya sebagai gelombang atau hanya sebagai partikel; sifat yang tampak tergantung cara mengukurnya. Superposisi berarti sebelum diukur, partikel dapat berada dalam campuran beberapa kemungkinan, misalnya “lewat celah kiri” dan “lewat celah kanan”. Sifat peluang berarti fisika tidak bisa meramalkan di mana satu elektron akan mendarat, tetapi bisa meramalkan dengan sangat tepat pola dari ribuan elektron.
Kabar baiknya, pemahaman kuantum menjadi dasar transistor di dalam cip ponsel yang mungkin sedang Anda pegang, laser pada pemindai kode batang di kasir minimarket, dan mikroskop elektron yang memanfaatkan sifat gelombang elektron untuk melihat benda yang terlalu kecil bagi mikroskop cahaya. Komputer kuantum pun bekerja dengan superposisi dan interferensi.
Makna Filosofis dalam Bahasa Sehari-hari

Secara filosofis, eksperimen celah ganda membuat kita bertanya ulang tentang tiga hal: apakah kenyataan sudah pasti sebelum diukur, apakah alam bekerja dengan peluang, dan sejauh mana akal manusia bisa memahami dunia.
Pertama, soal kenyataan. Kita yakin sandal di depan pintu tetap ada walau tak dilihat. Di dunia kuantum, sifat seperti “lewat celah mana” tampaknya belum punya jawaban pasti sebelum ada pengukuran. Inilah yang membuat Einstein bertanya tentang bulan tadi.
Kedua, soal peluang. Dalam suratnya kepada Max Born pada 1926, Einstein menyatakan keyakinan bahwa Tuhan “tidak bermain dadu”. Namun ramalan berbasis peluang itulah yang terus lolos pengujian.
Ketiga, soal batas pengetahuan. Para fisikawan punya beberapa “cerita” berbeda untuk menjelaskan hasil yang sama. Menurut tafsir Kopenhagen, elektron memang belum punya posisi pasti sampai diukur; pengukuranlah yang membuatnya “memilih” satu tempat. Menurut tafsir banyak dunia, semua kemungkinan benar-benar terjadi, tetapi di cabang-cabang dunia yang berbeda. Sementara itu, teori gelombang pilot menyatakan elektron selalu berupa partikel dengan jalur pasti, hanya saja ia ditemani gelombang yang “memandu” arahnya, mirip perahu kecil yang dibawa ombak. Gelombang itulah yang melewati kedua celah dan membentuk pola. Ketiganya sama-sama cocok dengan hasil percobaan. Survei Nature tahun 2025 terhadap lebih dari 1.100 peneliti menemukan 36% responden memilih tafsir Kopenhagen, 15% memilih tafsir banyak dunia, dan 7% memilih gelombang pilot. Menariknya, hanya 24% yang yakin tafsir pilihannya benar. Dengan kata lain, para ahli sepakat tentang “apa yang terjadi”, tetapi masih berbeda pendapat tentang “apa artinya”.
Elektron yang terlalu kecil untuk dilihat ternyata mengikuti aturan begitu presisi, sampai ribuan titik acak tersusun menjadi pola yang teratur. Subhanallah. Tentu kita tidak dapat menyamakan Al-Quran dengan teori fisika apa pun, karena teori ilmiah selalu bisa diperbarui. Namun rasa takjub di hadapan keteraturan alam itu sejalan dengan ajakan Allah SWT kepada orang-orang yang berpikir:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'” (QS. Ali ‘Imran: 190–191)
Anda tentu berhak menyimpulkan sendiri makna terdalamnya. Namun satu hal yang pasti: semakin dalam manusia meneliti alam, semakin terasa bahwa yang belum kita ketahui jauh lebih luas daripada yang sudah kita pahami.
Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu eksperimen celah ganda secara sederhana?
Eksperimen celah ganda adalah percobaan melewatkan cahaya atau partikel kecil melalui dua celah sempit untuk melihat pola yang muncul di layar. Jika polanya berupa garis terang-gelap, benda itu berperilaku seperti gelombang. Elektron dan molekul ternyata juga menghasilkan pola ini.
Apakah kesadaran manusia memengaruhi hasil percobaan ini?
Tidak, menurut pemahaman fisika arus utama, yang mengubah hasil adalah interaksi fisik dengan alat ukur, bukan kesadaran orang yang melihat. Detektor yang mencatat jalur elektron sudah cukup menghapus pola interferensi, walau tidak ada manusia yang membacanya.
Mengapa benda besar tidak menunjukkan pola interferensi?
Benda besar punya panjang gelombang sangat kecil dan terus berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga polanya langsung terhapus.
Penutup: Yuk, Sesekali Berhenti dan Membiarkan Diri Takjub

Kalau diringkas, eksperimen celah ganda berawal dari cahaya Thomas Young, berlanjut ke elektron tunggal yang tetap membentuk pola gelombang, menunjukkan bahwa pengukuran mengubah hasil, berlaku hingga molekul 2.000 atom, lalu melahirkan fondasi fisika modern sekaligus pertanyaan filosofis yang belum selesai.
Siapa sangka, “kelereng” super kecil yang melewati dua celah bisa membuat fisikawan terbaik dunia terdiam selama seabad lebih. Mulailah dari yang kecil: saat melihat riak air di kolam atau cahaya yang menembus celah jendela, ingatlah keteraturan luar biasa di baliknya. Siapa tahu, rasa takjub sederhana itu menjadi awal rasa ingin tahu yang lebih besar, bagi kita maupun anak-anak kita.
Baca Juga :
Proses Fotosintesis : Keajaiban di Balik Sehelai Daun
Dari semua hasil eksperimen tadi, bagian mana yang paling membuat Anda penasaran😕 elektron yang “berinterferensi dengan dirinya sendiri”, atau pola yang lenyap begitu jalurnya diukur? Saya penasaran dengan jawaban Anda di kolom komentar.
Semoga bermanfaat.
Daftar Pustaka
- Feynman, R. P., Leighton, R. B., & Sands, M. (1965). The Feynman Lectures on Physics, Vol. III, Bab 1: Quantum Behavior. Addison-Wesley. https://www.feynmanlectures.caltech.edu/III_01.html
- Tonomura, A., Endo, J., Matsuda, T., Kawasaki, T., & Ezawa, H. (1989). Demonstration of single-electron buildup of an interference pattern. American Journal of Physics, 57(2), 117–120. https://doi.org/10.1119/1.16104
- Fein, Y. Y., Geyer, P., Zwick, P., Kiałka, F., Pedalino, S., Mayor, M., Gerlich, S., & Arndt, M. (2019). Quantum superposition of molecules beyond 25 kDa. Nature Physics, 15, 1242–1245. https://doi.org/10.1038/s41567-019-0663-9
This post is also available in:



