Proses Fotosintesis: Keajaiban di Balik Sehelai Daun

Daniel
10 Min Read

Mari kita renungkan sejenak salah satu tanda kekuasaan Allah, Sang Maha Pencipta, yaitu proses fotosintesis. Kita pernah mempelajarinya di sekolah, mungkin menghafal rumusnya untuk ujian, lalu perlahan melupakannya. Padahal, di balik daun yang setiap hari kita lewati, ada pekerjaan luar biasa yang ikut memberi makan dan napas bagi kehidupan.

Saya ingin mengajak kita melihatnya kembali dengan lebih dekat. Tidak perlu menghafal semua istilahnya. Cukup mengikuti bagaimana cahaya matahari bisa berakhir menjadi nasi di piring, buah di meja, dan energi untuk kita beraktivitas. Kalau dipikir-pikir, bukankah itu mengagumkan?

Proses Fotosintesis: Memanen Cahaya untuk Kehidupan

Proses fotosintesis mengalirkan energi matahari dari tumbuhan menuju rantai makanan

Secara sederhana, fotosintesis adalah cara tumbuhan, alga, dan sejumlah bakteri memanfaatkan cahaya untuk membentuk bahan organik. Pada tumbuhan, pekerjaan ini terutama berlangsung di kloroplas, bagian kecil di dalam sel yang mengandung klorofil.

Rumus yang mungkin masih kita ingat adalah:

6 CO2 + 6 H2O + energi cahaya → C6H12O6 + 6 O2

Artinya, air dan karbon dioksida, dengan bantuan energi cahaya, digunakan untuk menghasilkan gula dan melepaskan oksigen. Rumus ini merangkum hasil akhirnya; di dalam daun, prosesnya berlangsung melalui banyak langkah.

Mula-mula, energi cahaya dipakai untuk membentuk ATP dan NADPH, pembawa energi yang bisa kita bayangkan sebagai bekal untuk tahap berikutnya. Pada tahap ini, air dipecah dan oksigen dilepaskan. Jadi, oksigen yang dihasilkan berasal dari air, bukan dari CO2.

Bekal tersebut kemudian digunakan dalam Siklus Calvin untuk mengolah karbon dari CO2 menjadi bahan penyusun gula. Dari sinilah tumbuhan memperoleh bahan untuk tumbuh sekaligus menyimpan energi.

Fotosintesis dapat kita pandang sebagai proses yang diciptakan Tuhan untuk memberi makan dan napas bagi kehidupan. Saat makan nasi, sayur, buah, atau hewan pemakan tumbuhan, kita memanfaatkan energi matahari yang telah diolah makhluk hidup.

Piramida energi ekosistem darat dengan rumput, belalang, katak, ular, pengurai, dan daur nutrien.
Contoh Piramida Energi (ekosistem darat)

Perhatikan piramida energi di atas. Rumput berada di dasar sebagai produsen, lalu energinya berpindah ke belalang, katak, dan ular melalui hubungan makan dan dimakan. Semakin ke atas, energi yang tersedia semakin sedikit karena sebagian telah dipakai untuk aktivitas hidup dan terlepas sebagai panas. Itulah sebabnya bentuknya menyempit.

Pengurai mengembalikan unsur hara dari sisa makhluk hidup ke lingkungan. Unsur hara dapat berputar kembali, sedangkan energi mengalir dan akhirnya terlepas sebagai panas. Gambar ini membantu kita melihat bahwa proses fotosintesis menopang kehidupan jauh melampaui tumbuhan itu sendiri.

Hubungannya dengan napas kita juga menarik. Fotosintesis menyimpan energi dan melepaskan oksigen; respirasi seluler menggunakan bahan organik dan oksigen untuk memperoleh energi, lalu menghasilkan CO2 dan air. Tumbuhan pun melakukan respirasi, siang dan malam. Diam di tempat ternyata bukan berarti tidak sibuk.

Fotosintesis dan Cahaya yang Tepat

Proses fotosintesis saat klorofil menyerap cahaya biru dan merah

Cahaya matahari yang terlihat putih ternyata mengandung berbagai warna. Di luar cahaya tampak, ada pula radiasi yang tidak bisa ditangkap mata kita. Semuanya termasuk dalam spektrum elektromagnetik, dari gelombang radio sampai sinar gamma.

Spektrum radiasi elektromagnetik dengan cahaya tampak dan rentang PAR 400–700 nanometer untuk fotosintesis.
Spektrum radiasi elektromagnetik dengan cahaya tampak dan rentang PAR 400–700 nanometer untuk fotosintesis.

Pada gambar spektrum di atas, cahaya tampak hanya menempati bagian kecil dari rentang yang luas itu. Rentang yang lazim disebut radiasi aktif fotosintesis atau PAR adalah sekitar 400–700 nanometer. Nanometer sendiri merupakan satuan panjang yang amat kecil. Diagram ini bersifat skematis, sehingga jarak antarbagian tidak menggambarkan skala sebenarnya.

Menurut penjelasan NASA tentang cahaya tampak, tiap warna memiliki panjang gelombang berbeda. Klorofil terutama menyerap cahaya biru dan merah, sementara cahaya hijau lebih banyak dipantulkan atau diteruskan. Cahaya yang sampai ke mata kita itulah yang membuat daun terlihat hijau.

Namun bukan berarti cahaya hijau sama sekali tidak berguna. Tumbuhan memiliki pigmen lain, termasuk karotenoid, yang membantu menangkap cahaya dan melindungi sistemnya dari energi berlebihan. Pigmen, protein, dan struktur daun bekerja bersama.

Saya membayangkannya seperti perangkat penerima yang perlu cocok dengan sinyalnya. Tentu daun jauh lebih rumit daripada perangkat buatan kita. Tetapi analogi sederhana ini membantu melihat bahwa proses fotosintesis memerlukan kesesuaian antara cahaya yang datang dan sistem yang menerimanya.

Mengetahui cara kerjanya justru menambah rasa takjub. Sesuatu yang tampak sesederhana daun hijau ternyata menyimpan kerja sama yang begitu teratur.

Daun Bukan Satu-satunya Pabrik Kehidupan

Fitoplankton melakukan proses fotosintesis di permukaan laut yang terkena cahaya

Ketika mendengar fotosintesis, kita biasanya membayangkan pohon. Padahal, di laut ada fitoplankton, organisme kecil yang berfotosintesis dan menjadi dasar banyak jaring makanan laut. Ukurannya boleh kecil, perannya sungguh besar.

NOAA menjelaskan bahwa sekitar separuh produksi oksigen di Bumi berasal dari laut, terutama dari plankton fotosintetik. Namun banyak oksigen itu juga digunakan oleh kehidupan laut. Jadi, angka produksi tersebut bukan berarti separuh oksigen yang kita hirup baru saja dibuat di laut.

Menarik, ya. Ketika berdiri di pantai, kita mungkin hanya melihat air dan ombak. Di bawah permukaannya berlangsung pekerjaan sunyi yang ikut menopang kehidupan planet ini.

Baik di darat maupun laut, proses fotosintesis dipengaruhi cahaya, air, suhu, CO2, dan unsur hara. Karena itu, menjaga hutan dan laut berarti menjaga sistem kehidupan yang saling berkaitan, bukan sekadar mempertahankan pemandangan indah.

Tangguh, Adaptif, tetapi Tetap Perlu Dijaga

Tumbuhan beradaptasi menghadapi kekeringan dan kerusakan lingkungan

Pernah melihat rumput kembali hijau setelah hujan, padahal sebelumnya tampak kering? Tumbuhan punya beragam cara menghadapi lingkungan. Ada yang menyesuaikan pertumbuhannya, ada pula yang mengatur pertukaran gas agar tidak terlalu banyak kehilangan air.

Pada tumbuhan CAM seperti banyak kaktus, pori-pori daun atau stomata terbuka pada malam hari untuk mengambil CO2. Saat siang, cadangan itu digunakan dengan bantuan energi cahaya. Cara ini membantu menghemat air di lingkungan kering.

Ketangguhan tersebut bukan berarti tumbuhan kebal terhadap kerusakan. DNA dapat rusak, sel perlu memperbaikinya, dan kemampuan bertahan setiap jenis tumbuhan berbeda. Kekeringan ekstrem, kebakaran berulang, atau hilangnya habitat tetap dapat melampaui kemampuan mereka.

Bagi saya, semakin memahami kemampuan tumbuhan, semakin besar pula alasan untuk merawatnya. Jangan sampai kita terlalu percaya alam akan selalu pulih sendiri, lalu merasa bebas merusaknya.

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Sehelai Daun?

Pria mengamati daun sambil merenungkan proses fotosintesis dan kehidupan

Setelah memahami proses fotosintesis, mungkin kita akan memandang makanan dan tumbuhan dengan cara berbeda. Nasi di piring tidak muncul begitu saja. Ada cahaya, air, udara, tanah, dan kehidupan yang saling terhubung sebelum akhirnya sampai kepada kita.

Keterhubungan ini juga mengingatkan saya pada pelajaran dari jatuh bangunnya peradaban dunia: kehidupan manusia bergantung pada banyak hal yang sering luput dari perhatian. Tubuh yang menikmati hasilnya pun patut kita jaga, sebagaimana saya bahas dalam 18 tips hidup sehat dan bugar.

Rasa takjub bisa dimulai dari hal sederhana, lalu diteruskan menjadi tindakan sederhana pula. Merawat pohon di halaman, menanam sesuai kondisi lingkungan, dan mengurangi pemborosan makanan merupakan beberapa cara untuk lebih menghargai kehidupan.

Kesimpulan

Proses fotosintesis mengubah energi cahaya menjadi energi kimia yang menopang sebagian besar jaring makanan, sekaligus menghasilkan oksigen pada tumbuhan dan organisme fotosintetik beroksigen lainnya. Kita tidak harus memahami setiap reaksi di dalamnya untuk menyadari betapa besar perannya.

Bagi saya, keteraturan ini menjadi salah satu tanda kebesaran Allah. Subhanallah, Mahasuci Allah, Pencipta langit dan Bumi beserta segala isinya. Mari kita renungkan ciptaan-Nya, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 190–191:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS Ali ‘Imran: 190–191)

Sesekali, berhentilah sejenak saat melewati pohon. Pandang daunnya. Di sana, tanpa suara dan tanpa meminta perhatian, cahaya sedang diolah menjadi bekal kehidupan. Sesuatu yang biasa kita lihat, ternyata tidak biasa sama sekali.

Pertanyaan Umum tentang Fotosintesis

Apakah fotosintesis hanya berlangsung pada siang hari?

Reaksi cahaya memerlukan cahaya. Istilah “reaksi gelap” untuk Siklus Calvin bukan berarti tahap itu khusus berlangsung malam hari; tahap tersebut menggunakan ATP dan NADPH dari reaksi cahaya.

Apakah semua oksigen berasal dari pohon?

Tidak. Alga, fitoplankton, dan organisme fotosintetik lain juga menghasilkan oksigen. Oksigen atmosfer merupakan hasil akumulasi dan keseimbangan berbagai proses dalam waktu yang panjang.

This post is also available in: English

TAGGED:
Share This Article
Follow:
Daniel, S.T., MBA. Writing about Islam, science, health, IT, finance, history, and other topics as personal reflections — hoping they may also be of benefit to readers.
error: