Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an: Arab, Latin, Arti, dan Kisahnya

Daniel
24 Min Read

Ketika hati terasa sempit, urusan tampak berat, atau kita tidak tahu harus meminta apa, doa dalam Al-Qur’an memberi kita kata-kata yang jernih. Doa-doa itu lahir dari banyak keadaan: penyesalan Nabi Adam dan Hawa, kegelisahan Nabi Musa sebelum menghadapi Firaun, kesendirian Nabi Yunus dalam kegelapan, hingga harapan Nabi Ibrahim bagi keluarga dan negeri yang aman.

Berikut kumpulan doa dalam Al-Qur’an lengkap dengan text arab, transliterasi dan terjemahan makna nya :

Kumpulan doa dalam Al-Qur’an untuk ampunan dan rahmat

Doa Nabi Adam dan Hawa setelah melakukan kesalahan

Nabi Adam dan Hawa tidak mencari alasan setelah tergelincir. Keduanya mengakui kesalahan dan memohon ampunan serta rahmat Allah. Ini adalah doa yang sangat baik dibaca ketika kita menyesali dosa.

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

Rabbanā ẓalamnā anfusanā wa il lam tagfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf [7]: 23)

Doa Nabi Nuh untuk diri, orang tua, dan orang beriman

Menjelang penutup Surah Nuh, Nabi Nuh memohon ampun untuk dirinya, kedua orang tuanya, orang yang memasuki rumahnya dalam keadaan beriman, serta seluruh mukmin laki-laki dan perempuan.

رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

Rabbigfir lī wa liwālidayya wa liman dakhala baitiya mu’minaw wa lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā tabārā.

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman, dan semua mukmin laki-laki serta perempuan. Janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim selain kebinasaan.” (QS. Nuh [71]: 28)

Doa Nabi Ibrahim agar keluarga mendirikan salat dan memperoleh ampunan

Di penghujung rangkaian doanya tentang Makkah dan keturunan, Nabi Ibrahim memohon agar dirinya dan anak cucunya istiqamah mendirikan salat. Setelah itu beliau memohon ampun bagi diri, orang tua, dan seluruh orang beriman pada hari perhitungan.

رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ ۝ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ ٱلْحِسَابُ

Rabbij’alnī muqīmaṣ-ṣalāti wa min żurriyyatī, rabbanā wa taqabbal du’ā’. Rabbanagfir lī wa liwālidayya wa lil-mu’minīna yauma yaqūmul-ḥisāb.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian keturunanku orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang beriman pada hari berlangsungnya perhitungan.” (QS. Ibrahim [14]: 40–41)

Doa memohon ampun dan rahmat

Ayat ini mengabadikan ucapan hamba-hamba beriman yang dahulu diejek oleh orang kafir. Isi doanya ringkas: pengakuan iman, permohonan ampun, dan harapan akan rahmat Allah.

رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Rabbanā āmannā fagfir lanā warḥamnā wa anta khairur-rāḥimīn.

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman. Maka ampunilah dan rahmatilah kami; Engkaulah sebaik-baik pemberi rahmat.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 109)

Doa memohon hidayah dan keteguhan hati

Doa agar hati tidak menyimpang setelah mendapat petunjuk

Mengetahui kebenaran tidak membuat seseorang kebal dari penyimpangan. Karena itu, orang yang mendalam ilmunya justru memohon agar hati mereka tetap teguh dan memperoleh rahmat.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

Rabbanā lā tuzig qulūbanā ba’da iż hadaitanā wa hab lanā mil ladunka raḥmah, innaka antal-Wahhāb.

“Ya Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk. Anugerahkanlah rahmat dari sisi-Mu; sungguh, Engkaulah Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 8)

Doa para pemuda penghuni gua

Para pemuda Ashabul Kahfi berlindung di gua demi menjaga iman. Di tengah ketidakpastian, mereka meminta rahmat dan petunjuk agar urusan mereka berakhir dengan jalan yang benar.

Menempatkan doa dalam Al-Qur’an pada konteks kisahnya membuat permohonan ini terasa dekat: hidayah dibutuhkan bukan hanya saat kita tersesat, tetapi juga saat harus mengambil keputusan yang penuh risiko.

رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Rabbanā ātinā mil ladunka raḥmatan wa hayyi’ lanā min amrinā rasyadā.

“Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan ini.” (QS. Al-Kahfi [18]: 10)

Doa untuk keluarga, keturunan, dan negeri yang aman

Doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati

Ini bukan sekadar permintaan agar keluarga menyenangkan kita. Doanya berujung pada tanggung jawab: menjadi teladan bagi orang-orang bertakwa. Rujukan yang benar adalah Al-Furqan ayat 74, bukan ayat 27 sebagaimana tertulis dalam artikel lama.

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a’yunin waj’alnā lil-muttaqīna imāmā.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati, serta jadikanlah kami teladan bagi orang-orang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)

Doa Nabi Zakaria memohon keturunan yang baik

Setelah menyaksikan rezeki yang Allah berikan kepada Maryam, Nabi Zakaria berdoa memohon keturunan yang baik. Doa ini mengajarkan bahwa keterbatasan manusia tidak membatasi kuasa Allah.

Rangkaian doa dalam Al-Qur’an tentang keluarga tidak berhenti pada kehadiran anak, tetapi juga menekankan kualitas iman, akhlak, dan keteladanan.

رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

Rabbi hab lī mil ladunka żurriyyatan ṭayyibah, innaka samī’ud-du’ā’.

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sungguh, Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 38)

Doa Nabi Zakaria agar tidak dibiarkan seorang diri

Dalam usia lanjut dan belum memiliki anak, Nabi Zakaria kembali memohon kepada Allah. Ungkapan “Engkaulah sebaik-baik pewaris” menunjukkan bahwa permohonannya tetap disertai penyerahan penuh kepada keputusan Allah.

رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

Rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn.

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah sebaik-baik pewaris.” (QS. Al-Anbiya [21]: 89)

Doa Nabi Ibrahim agar negeri aman dan diberi rezeki

Bagian awal ayat adalah pengantar narasi, bukan bagian inti doa. Karena itu, teks pengantar ditampilkan abu-abu, sedangkan permohonan Nabi Ibrahim ditampilkan hitam.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ

Wa iż qāla Ibrāhīmu, rabbij’al hāżā baladan āminaw warzuq ahlahū minaṡ-ṡamarāti man āmana minhum billāhi wal-yaumil-ākhir.

“Dan ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari akhir.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 126)

Doa untuk ilmu, kelapangan dada, dan kemudahan

Doa Nabi Musa sebelum menghadapi Firaun

Ketika diperintah mendatangi Firaun, Nabi Musa tidak hanya meminta keberanian. Beliau memohon kelapangan dada, kemudahan urusan, dan lisan yang dapat dipahami—bekal penting saat menghadapi tugas berat.

رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى وَٱحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِى يَفْقَهُوا۟ قَوْلِى

Rabbisyraḥ lī ṣadrī, wa yassir lī amrī, waḥlul ‘uqdatan mil lisānī, yafqahū qaulī.

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskan kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.” (QS. Taha [20]: 25–28)

Doa memohon tambahan ilmu

Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk meminta tambahan ilmu. Doa yang hanya tiga kata ini layak mengiringi belajar, membaca, bekerja, dan setiap usaha memahami sesuatu dengan benar.

رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا

Rabbi zidnī ‘ilmā.

“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Taha [20]: 114)

Doa memohon rezeki dan pertolongan

Doa Nabi Musa ketika tiba di Madyan

Setelah meninggalkan Mesir dalam keadaan takut, Nabi Musa membantu dua perempuan memberi minum ternaknya, lalu berteduh dan mengakui kefakirannya kepada Allah. Doanya tidak mendikte bentuk pertolongan; beliau menyerahkan jenis kebaikan itu kepada Allah.

Di antara doa dalam Al-Qur’an, kalimat ini menunjukkan adab meminta yang lembut: menyatakan kebutuhan, tetap berikhtiar, lalu menyerahkan bentuk rezeki kepada Allah.

رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qasas [28]: 24)

Doa Nabi Ibrahim agar Makkah aman

Dalam ayat lain, Nabi Ibrahim memohon keamanan bagi Makkah dan perlindungan bagi dirinya serta anak cucunya dari penyembahan berhala. Keamanan dan kemurnian tauhid diletakkan dalam satu rangkaian.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

Rabbij’al hāżal-balada āminaw wajnubnī wa baniyya an na’budal-aṣnām.

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrahim [14]: 35)

Doa untuk syukur, amal, dan kebaikan dunia-akhirat

Doa agar mampu bersyukur dan beramal saleh

Doa ini menyatukan tiga generasi: diri, orang tua, dan keturunan. Kita memohon kemampuan mensyukuri nikmat, mengerjakan amal yang diridai, dan melihat kebaikan tumbuh dalam keluarga.

رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Rabbi auzi’nī an asykura ni’matakallatī an’amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a’mala ṣāliḥan tarḍāhu wa aṣliḥ lī fī żurriyyatī, innī tubtu ilaika wa innī minal-muslimīn.

“Ya Tuhanku, ilhamkanlah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu kepadaku dan kedua orang tuaku, mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai, dan berilah kebaikan kepadaku melalui keturunanku. Aku bertobat kepada-Mu dan termasuk orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)

Doa Nabi Sulaiman agar mampu mensyukuri nikmat

Ketika memahami perkataan semut, Nabi Sulaiman tersenyum lalu memohon agar diberi kemampuan untuk bersyukur, beramal saleh, dan dimasukkan ke dalam golongan hamba yang saleh. Kekuasaan besar tidak membuat beliau lupa bahwa kemampuan bersyukur pun merupakan pertolongan Allah.

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Fatabassama ḍāḥikam min qaulihā wa qāla, rabbi auzi’nī an asykura ni’matakallatī an’amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a’mala ṣāliḥan tarḍāhu wa adkhilnī biraḥmatika fī ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn.

“Lalu dia tersenyum karena perkataan semut itu dan berdoa, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu kepadaku dan kedua orang tuaku, mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai, serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.’” (QS. An-Naml [27]: 19)

Doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar amal diterima

Ayat ini dibaca saat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail meninggikan fondasi Ka’bah. Pekerjaan besar tidak membuat keduanya merasa pasti diterima. Bagian narasi berwarna abu-abu; permohonan mereka berwarna hitam.

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِيمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Wa iż yarfa’u Ibrāhīmul-qawā’ida minal-baiti wa Ismā’īl, rabbanā taqabbal minnā, innaka antas-Samī’ul-‘Alīm.

“Dan ketika Ibrahim bersama Ismail meninggikan fondasi Baitullah, mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sungguh, Engkaulah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)

وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

Wa tub ‘alainā, innaka antat-Tawwābur-Raḥīm.

“Terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (bagian dari QS. Al-Baqarah [2]: 128)

Doa sapu jagat untuk kebaikan dunia dan akhirat

Doa ini mencakup kebaikan yang luas tanpa mempertentangkan dunia dan akhirat. Karena frasa sebelumnya adalah pengantar narasi, bagian itu dibedakan warnanya.

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Wa minhum may yaqūlu, rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanataw wa fil-ākhirati ḥasanataw wa qinā ‘ażāban-nār.

“Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 201)

Doa Nabi Ibrahim memohon hikmah dan akhir yang baik

Nabi Ibrahim memohon hikmah, pergaulan bersama orang saleh, nama baik yang berlandaskan kebenaran, serta warisan surga. Rangkaian ayat berikutnya menunjukkan bahwa pada hari kebangkitan, harta dan anak tidak memberi manfaat kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.

رَبِّ هَبْ لِى حُكْمًا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ ۝ وَٱجْعَل لِّى لِسَانَ صِدْقٍ فِى ٱلْءَاخِرِينَ ۝ وَٱجْعَلْنِى مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ۝ وَٱغْفِرْ لِأَبِىٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ ۝ وَلَا تُخْزِنِى يَوْمَ يُبْعَثُونَ ۝ يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Rabbi hab lī ḥukmaw wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn. Waj’al lī lisāna ṣidqin fil-ākhirīn. Waj’alnī min waraṡati jannatin-na’īm. Wagfir li-abī innahū kāna minaḍ-ḍāllīn. Wa lā tukhzinī yauma yub’aṡūn. Yauma lā yanfa’u māluw wa lā banūn, illā man atallāha biqalbin salīm.

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah, masukkanlah aku ke dalam golongan orang saleh, jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi generasi kemudian, jadikanlah aku pewaris surga penuh kenikmatan, ampunilah ayahku—sesungguhnya dia termasuk orang yang tersesat—dan jangan hinakan aku pada hari manusia dibangkitkan; hari ketika harta dan anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 83–89)

Permohonan Nabi Ibrahim untuk ayahnya berkaitan dengan janji yang pernah beliau berikan. Setelah jelas bahwa ayahnya memusuhi Allah, Nabi Ibrahim berlepas diri darinya sebagaimana diterangkan dalam At-Taubah ayat 114.

Doa saat berada dalam kesulitan dan sakit

Doa Nabi Yunus dalam kegelapan

Nabi Yunus mengucapkan zikir dan doa ini dalam “berbagai kegelapan”. Rangkaian kisah pada Surah As-Saffat menjelaskan bahwa beliau ditelan ikan besar. Ayat doanya sendiri mengajarkan tauhid, tasbih, dan pengakuan kesalahan. Pengantar narasi ditulis abu-abu.

فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Fanādā fiẓ-ẓulumāti an, lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.

“Lalu dia berdoa dalam kegelapan, ‘Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’” (QS. Al-Anbiya [21]: 87)

Doa Nabi Ayyub ketika ditimpa penyakit

Nabi Ayyub menyampaikan penderitaannya tanpa menuntut bentuk jawaban tertentu. Beliau menutup pengaduannya dengan pujian bahwa Allah adalah Yang Maha Penyayang.

أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta arḥamur-rāḥimīn.

“Sungguh, aku telah ditimpa kesusahan, sedangkan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya [21]: 83)

Doa Nabi Nuh agar tidak meminta sesuatu tanpa ilmu

Setelah memohon mengenai putranya, Nabi Nuh ditegur karena meminta sesuatu yang tidak diketahuinya. Beliau segera berlindung kepada Allah dari permintaan tanpa ilmu dan memohon ampun serta rahmat.

رَبِّ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِى بِهِۦ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِى وَتَرْحَمْنِىٓ أَكُن مِّنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

Rabbi innī a’ūżu bika an as’alaka mā laisa lī bihī ‘ilm, wa illā tagfir lī wa tarḥamnī akum minal-khāsirīn.

“Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang tidak kuketahui. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmatiku, niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Hud [11]: 47)

Doa penutup Al-Baqarah ketika merasa terbebani

Penutup Surah Al-Baqarah mengajarkan permohonan yang luas: agar tidak dihukum karena lupa atau tersalah, tidak dibebani seperti umat terdahulu, serta memperoleh maaf, ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

Rabbanā lā tu’ākhiżnā in nasīnā au akhṭa’nā. Rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahū ‘alal-lażīna min qablinā. Rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih. Wa’fu ‘annā, wagfir lanā, warḥamnā. Anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn.

“Ya Tuhan kami, jangan hukum kami jika kami lupa atau bersalah. Jangan bebankan kepada kami beban berat seperti yang Engkau bebankan kepada orang sebelum kami. Jangan pikulkan kepada kami sesuatu yang tidak sanggup kami tanggung. Maafkan, ampuni, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (bagian dari QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Doa perlindungan, tawakal, dan ketenteraman hati

Doa berlindung dari bisikan setan

Al-Qur’an mengajarkan perlindungan dari bisikan setan dan dari kehadiran mereka. Doa ini relevan ketika marah, gelisah, atau terdorong melakukan sesuatu yang buruk.

وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَٰتِ ٱلشَّيَٰطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ

Rabbi a’ūżu bika min hamazātisy-syayāṭīn, wa a’ūżu bika rabbi ay yaḥḍurūn.

“Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu agar mereka tidak mendekatiku.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 97–98)

Doa Nabi Syu’aib memohon keputusan yang adil

Setelah kaumnya mengancam akan mengusir Nabi Syu’aib dan para pengikutnya atau memaksa mereka kembali kepada agama lama, beliau menyerahkan keputusan kepada Allah. Kata iftah pada doa ini bermakna memutuskan perkara dengan benar dan adil.

رَبَّنَا ٱفْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِٱلْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْفَٰتِحِينَ

Rabbanaftaḥ bainanā wa baina qauminā bil-ḥaqqi wa anta khairul-fātiḥīn.

“Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan benar. Engkaulah sebaik-baik pemberi keputusan.” (QS. Al-A’raf [7]: 89)

Doa pengikut Nabi Musa ketika menghadapi kezaliman Firaun

Doa ini sering disebut sebagai doa Nabi Musa, tetapi ayatnya menyatakan bahwa yang mengucapkannya adalah orang-orang yang menjawab seruan Nabi Musa untuk bertawakal. Mereka memohon agar tidak dijadikan sasaran penindasan kaum zalim dan diselamatkan dari kaum Firaun.

فَقَالُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ۝ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

Faqālū ‘alallāhi tawakkalnā, rabbanā lā taj’alnā fitnatal lil-qaumiẓ-ẓālimīn. Wa najjinā biraḥmatika minal-qaumil-kāfirīn.

“Mereka berkata, ‘Kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, jangan jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari kaum kafir.’” (QS. Yunus [10]: 85–86)

Doa pasukan Talut ketika menghadapi Jalut

Ketika berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, pasukan Talut tidak meminta agar ujian dihilangkan. Mereka memohon kesabaran yang dilimpahkan, langkah yang diteguhkan, dan pertolongan untuk menunaikan tugas.

وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

Wa lammā barazū lijālūta wa junūdihī qālū, rabbanā afrig ‘alainā ṣabraw wa ṡabbit aqdāmanā wanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn.

“Ketika mereka maju menghadapi Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkan langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 250)

Doa agar tidak menyimpan dengki kepada orang beriman

Doa ini memohon ampun bagi diri sendiri dan kaum beriman terdahulu, sekaligus kebersihan hati dari kebencian.

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Rabbanagfir lanā wa li-ikhwāninal-lażīna sabaqūnā bil-īmāni wa lā taj’al fī qulūbinā gillal lillażīna āmanū, rabbanā innaka ra’ūfur-raḥīm.

“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang lebih dahulu beriman. Jangan Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr [59]: 10)

Hasbunallahu wa ni’mal wakil

Dalam Ali ‘Imran ayat 173, kalimat ini diucapkan orang-orang beriman saat mendapat kabar bahwa pasukan telah berkumpul untuk menyerang mereka. (Kaitan kalimat ini dengan Nabi Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api berasal dari riwayat Ibnu Abbas dalam Sahih al-Bukhari,)

وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ

Wa qālū, ḥasbunallāhu wa ni’mal-wakīl.

“Mereka berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.’” (bagian dari QS. Ali ‘Imran [3]: 173)

Ni’mal maula wa ni’man nasir

Kalimat pujian dan tawakal ini muncul dalam Al-Anfal ayat 40 dan Al-Hajj ayat 78. Ia kerap dibaca setelah ḥasbunallāhu wa ni’mal-wakīl, tetapi keduanya berasal dari ayat dan surah yang berbeda.

نِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ

Ni’mal-maulā wa ni’man-naṣīr.

“Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (bagian dari QS. Al-Anfal [8]: 40 dan QS. Al-Hajj [22]: 78)

Cara mengamalkan doa-doa Al-Qur’an

Doa bukan mantra yang bekerja tanpa hati dan ikhtiar. Kita dapat memulainya dengan memahami makna, memilih doa yang sesuai keadaan, lalu membacanya dengan penuh harap. Jika belum lancar melafalkan tulisan Arab, dengarkan bacaan ayat dari qari yang baik dan belajar secara bertahap kepada guru yang tepercaya.

Saat memilih doa dalam Al-Qur’an, kita tidak harus menunggu keadaan yang sama persis dengan kisah asalnya. Nilai tauhid, taubat, syukur, dan tawakal di dalamnya tetap dapat menjadi panduan bagi keadaan kita hari ini.

Konteks ayat juga penting. Doa Nabi Musa mengingatkan kita untuk mempersiapkan komunikasi sebelum menghadapi tugas berat. Doa Nabi Yunus mengajarkan tauhid dan pengakuan salah di tengah kesempitan. Doa Nabi Ibrahim menautkan rezeki dengan keamanan, iman, dan tanggung jawab kepada generasi berikutnya.

Semoga Bermanfaat

This post is also available in: English

Share This Article
Follow:
Daniel, S.T., MBA. Writing about Islam, science, health, IT, finance, history, and other topics as personal reflections — hoping they may also be of benefit to readers.
Tidak ada komentar
error: Content is protected !!