8 Rahasia Panjang Umur Blue Zone: Sehat Sampai 100 Tahun

Pasangan lansia sehat berjalan di tengah kebun dan komunitas pesisir yang menggambarkan gaya hidup Blue Zone.

Pernahkah Anda membayangkan menjadi kakek atau nenek berusia 100 tahun yang masih menyiangi kebun, bercanda dengan cicit, bahkan mengayuh sepeda ke pasar? Kedengarannya seperti dongeng, tetapi di beberapa sudut Bumi, pemandangan seperti itu masih dianggap biasa saja. Para peneliti menyebut tempat-tempat ini blue zone, yaitu wilayah dengan konsentrasi penduduk berusia 100 tahun ke atas (centenarian) yang luar biasa tinggi, dan yang lebih menarik, banyak di antara mereka masih sehat dan mandiri. Konon, istilah “blue” lahir dari lingkaran spidol biru yang dipakai para peneliti pada peta Sardinia, he2x.

Jadi, di mana saja letaknya? Menurut kajian demografi Poulain dkk. (2013), ada empat wilayah yang datanya paling banyak diteliti: pegunungan Ogliastra di pulau Sardinia (Italia), pulau Okinawa (Jepang), Semenanjung Nicoya (Kosta Rika), dan pulau Ikaria (Yunani). Wilayah kelima, Loma Linda di California (Amerika Serikat), kemudian dimasukkan Dan Buettner ke dalam daftar lima blue zone-nya. Penghuninya adalah komunitas Advent Hari Ketujuh yang dikenal disiplin menjaga gaya hidup (Buettner & Skemp, 2016).

Yang bikin penasaran, kelima tempat ini terpisah ribuan kilometer, dengan budaya, bahasa, dan agama yang berbeda-beda. Namun pola hidup mereka ternyata mirip. Artinya, rahasianya bukan satu makanan ajaib atau satu gen “sakti”, melainkan tumpukan kebiasaan kecil yang dijalani puluhan tahun. Yah, mirip bunga majemuk di bank: setoran hariannya kecil, tetapi hasilnya luar biasa setelah waktu yang panjang.

Sedikit catatan jujur agar kita tidak terlalu terpesona. Sebagian besar penelitian tentang blue zone bersifat observasional, artinya menunjukkan hubungan, bukan bukti sebab-akibat yang mutlak. Keakuratan catatan usia juga pernah dipertanyakan, misalnya oleh Newman (pratinjau ilmiah, 2019) yang mensinyalir adanya kekeliruan pencatatan usia di sejumlah data umur ekstrem. Rosero-Bixby (2023) pun menemukan bahwa keunggulan umur panjang Nicoya memudar pada generasi yang lahir belakangan. Meski begitu, arah temuan berbagai penelitian tentang kebiasaan-kebiasaan tadi cukup konsisten, sehingga tetap layak dijadikan inspirasi.

Nah, supaya tidak sekadar “katanya”, saya rangkum 8 faktor yang berulang ditemukan di blue zone, masing-masing dilengkapi hasil penelitian yang relevan (daftar lengkap sumbernya ada di bagian akhir). Yuk kita bahas satu per satu :

  1. Piring Nabati, dengan Kacang-kacangan sebagai Bintangnya

Di semua blue zone, menu harian didominasi tumbuhan: sayur, umbi, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan (kedelai di Okinawa, kacang arab dan lentil di Mediterania, kacang hitam di Nicoya), sementara daging hanya jadi pemeran pendukung. Dalam Adventist Health Study 2 (Loma Linda) terhadap 73.308 orang, pola makan vegetarian dikaitkan dengan risiko kematian semua sebab yang 12% lebih rendah (hazard ratio 0,88; IK 95% 0,80–0,97) dibanding non-vegetarian (Orlich dkk., 2013). Darmadi-Blackberry dkk. (2004) membandingkan lansia Jepang, Yunani, Swedia, dan Australia, lalu menemukan bahwa kacang-kacangan adalah satu-satunya kelompok makanan yang konsisten berkaitan dengan umur lebih panjang di semua budaya: setiap tambahan 20 gram per hari berkaitan dengan penurunan risiko kematian sekitar 8%. Penjelasan yang masuk akal adalah kandungan serat dan protein nabatinya. Kabar baik untuk kita: tempe, tahu, dan kacang hijau ada di mana-mana.

  1. Berhenti Makan Sebelum Kenyang

Orang Okinawa punya kebiasaan hara hachi bu: berhenti makan ketika perut terisi sekitar 80% (Buettner & Skemp, 2016). Willcox dkk. (2007) menganalisis data enam dekade pada lansia Okinawa dan menemukan asupan kalori rendah dan neraca energi negatif pada usia lebih muda, kenaikan berat badan yang sedikit seiring usia, BMI rendah seumur hidup, serta risiko kematian penyakit degeneratif yang rendah. Pola ini sejalan dengan riset pembatasan kalori pada hewan.

Rasulullah SAW pun mengajarkan bahwa cukup bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya, dan bila harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas (HR. Tirmidzi).

  1. Bergerak Tanpa Sadar, Bukan Karena Jadwal Gym

Tidak ada centenarian blue zone yang rutin ke gym. Mereka menggembala di lereng Sardinia, berkebun di Okinawa, dan mendaki jalanan Ikaria. Studi terhadap 71 lansia berusia 90 tahun ke atas di Ikaria menemukan 71,8% memiliki aktivitas fisik sedang hingga tinggi, terutama dari bertani dan berjalan di medan berbukit (Legrand dkk., 2021). Analisis gabungan terhadap 661.137 orang menunjukkan bahwa aktivitas 1–2 kali lipat batas minimum anjuran (150 menit per minggu) berkaitan dengan risiko kematian 31% lebih rendah (HR 0,69), dan 3–5 kali lipat dengan 39% lebih rendah (HR 0,61), dibanding yang tidak aktif. Penulisnya menekankan bahwa manfaat mendekati maksimum sudah tercapai pada kisaran anjuran (Arem dkk., 2015). Jadi jalan kaki ke warung, naik tangga, dan berkebun itu benar-benar dihitung.

  1. Punya Alasan untuk Bangun Pagi

Orang Okinawa menyebutnya ikigai, orang Nicoya menyebutnya plan de vida, yaitu tujuan hidup yang membuat seseorang bersemangat menyambut hari (Buettner & Skemp, 2016). Ohsaki Study di Jepang mengikuti 43.391 orang dewasa selama 7 tahun (3.048 kematian) dan menemukan bahwa mereka yang tidak merasa punya ikigai berisiko meninggal semua sebab 1,5 kali lebih tinggi (HR 1,5; IK 95% 1,3–1,7), dengan kematian kardiovaskular 1,6 kali lebih tinggi (Sone dkk., 2008). Mekanismenya belum pasti, tetapi orang yang merasa hidupnya bermakna diduga lebih terdorong menjaga diri dan lebih tahan terhadap stres.

  1. Keluarga dan Sahabat Selalu Dekat

Di Okinawa ada moai, kelompok sahabat seumur hidup yang saling menopang (Buettner & Skemp, 2016). Di Ikaria, 77,9% nonagenarian berinteraksi sosial setiap hari (Legrand dkk., 2021), dan Poulain dkk. (2013) mencatat dukungan keluarga yang kuat sebagai ciri umum blue zone. Meta-analisis Holt-Lunstad dkk. (2010) terhadap 148 studi dengan 308.849 peserta (rata-rata 7,5 tahun) menemukan bahwa hubungan sosial yang kuat berkaitan dengan peluang bertahan hidup 50% lebih besar (OR 1,50; IK 95% 1,42–1,59), dan lebih besar lagi (OR 1,91) pada ukuran integrasi sosial yang kompleks. Dalam Islam, kita diingatkan: “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim” (HR. Bukhari dan Muslim). Tentu umur ada di tangan Allah, tetapi silaturahim jelas ikhtiar yang baik.

  1. Punya Komunitas Iman

Warga Loma Linda punya Sabbath mingguan, sementara di Ikaria 81,4% nonagenarian mengikuti kegiatan keagamaan dan 90% percaya Tuhan (Legrand dkk., 2021). Li dkk. (2016) mengikuti 74.534 perempuan di Amerika Serikat dan menemukan bahwa mereka yang menghadiri ibadah lebih dari sekali seminggu memiliki kemungkinan meninggal lebih dari 30% lebih rendah dibanding yang tidak pernah hadir. Penjelasannya kemungkinan berlapis: dukungan sosial, ritme hidup yang teratur, makna hidup, dan berkurangnya perilaku berisiko. Ingat, ini hubungan statistik, bukan janji bahwa ibadah berfungsi sebagai obat.

  1. Melambat Sejenak: Tidur Siang dan Ritual Rileks

Sekitar 70% nonagenarian di Ikaria tidur siang, rata-rata 80,6 menit per hari (Legrand dkk., 2021). Setiap blue zone punya ritual peredam stres: doa leluhur di Okinawa, ngobrol santai sore hari di Sardinia, dan Sabbath di Loma Linda (Buettner & Skemp, 2016). Naska dkk. (2007) mengikuti 23.681 orang dewasa Yunani selama rata-rata 6,3 tahun dan menemukan bahwa tidur siang minimal 30 menit, tiga kali atau lebih per minggu, berkaitan dengan kematian koroner 37% lebih rendah, dan pada pria yang bekerja bahkan 64% lebih rendah. Stres kronis diduga memicu peradangan, jadi jeda yang teratur sangat berharga.

  1. Keunikan Masing-masing Blue Zone

Okinawa: pola makan tradisionalnya sangat rendah kalori, dan lansianya kurus sepanjang hidup (Willcox dkk., 2007). Sardinia: berbeda dari hampir semua tempat lain, keunggulannya menonjol pada pria. Rasio perempuan terhadap laki-laki di antara centenarian di zona ini hanya 1,35, dibanding 2,43 di bagian pulau lainnya; peneliti menduga isolasi geografis, faktor genetik, dan lingkungan berperan (Poulain dkk., 2004). Nicoya: dikenal sebagai “pulau umur panjang” bagi lansia pria (Rosero-Bixby dkk., 2013), meski keunggulan itu kini menyusut pada generasi yang lebih muda dan tinggal di koridor kecil berpenduduk sekitar 25.000 orang (Rosero-Bixby, 2023). Ikaria: pulau terpencil dengan makanan lokal, siesta panjang, dan festival desa (Panigiria) yang dihadiri 62% nonagenarian (Legrand dkk., 2021). Loma Linda: komunitas Advent yang menjaga Sabbath, menjauhi rokok, dan banyak yang vegetarian (Buettner & Skemp, 2016; Orlich dkk., 2013). Pelajarannya: umur panjang bisa dicapai lewat banyak jalan, selama fondasinya sama.

Penutup: Yuk, Tiru yang Baik-baik dari Mereka

Kalau diringkas, para centenarian di blue zone hidup dengan piring yang didominasi tumbuhan dan kacang-kacangan, makan secukupnya, bergerak sepanjang hari, punya tujuan hidup, dekat dengan keluarga dan sahabat, aktif di komunitas iman, serta pandai melambat. Tidak ada satu pun yang membutuhkan biaya mahal atau teknologi canggih.

Kita tidak perlu pindah ke Okinawa atau Ikaria untuk meniru mereka. Mulailah dari yang kecil: tambahkan tempe atau kacang-kacangan ke piring hari ini, berhenti makan sebelum benar-benar kenyang, jalan kaki 30 menit, telepon orang tua atau sahabat lama, dan sisihkan waktu untuk istirahat dan beribadah dengan tenang. Siapa tahu, beberapa dekade lagi kita akan berterima kasih pada diri sendiri hari ini. Umur memang rahasia Allah, tetapi kualitas hari-hari kita sangat dipengaruhi ikhtiar yang kita mulai sekarang.

Catatan: tulisan ini bersifat edukasi umum dan bukan pengganti saran dokter atau tenaga kesehatan profesional.

Semoga Bermanfaat..

 

Daftar Pustaka / Sumber Bacaan

  1. Arem H, dkk. (2015). Leisure time physical activity and mortality: a detailed pooled analysis of the dose-response relationship. JAMA Intern Med, 175(6):959–967. https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2015.0533
  2. Buettner D, Skemp S (2016). Blue Zones: lessons from the world’s longest lived. Am J Lifestyle Med, 10(5):318–321. https://doi.org/10.1177/1559827616637066
  3. Darmadi-Blackberry I, dkk. (2004). Legumes: the most important dietary predictor of survival in older people of different ethnicities. Asia Pac J Clin Nutr, 13(2):217–220. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15228991/
  4. Holt-Lunstad J, Smith TB, Layton JB (2010). Social relationships and mortality risk: a meta-analytic review. PLoS Med, 7(7):e1000316. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1000316
  5. Legrand R, dkk. (2021). Description of lifestyle, including social life, diet and physical activity, of people ≥90 years living in Ikaria, a longevity blue zone. Int J Environ Res Public Health, 18(12):6602. https://doi.org/10.3390/ijerph18126602
  6. Li S, dkk. (2016). Association of religious service attendance with mortality among women. JAMA Intern Med, 176(6):777–785. https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2016.1615
  7. Naska A, dkk. (2007). Siesta in healthy adults and coronary mortality in the general population. Arch Intern Med, 167(3):296–301. https://doi.org/10.1001/archinte.167.3.296
  8. Newman SJ (2019). Supercentenarian and remarkable age records exhibit patterns indicative of clerical errors and pension fraud. bioRxiv(pratinjau, belum melalui tinjauan sejawat). https://doi.org/10.1101/704080
  9. Orlich MJ, dkk. (2013). Vegetarian dietary patterns and mortality in Adventist Health Study 2. JAMA Intern Med, 173(13):1230–1238. https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2013.6473
  10. Poulain M, dkk. (2004). Identification of a geographic area characterized by extreme longevity in the Sardinia island: the AKEA study. Exp Gerontol, 39(9):1423–1429. https://doi.org/10.1016/j.exger.2004.06.016
  11. Poulain M, Herm A, Pes G (2013). The Blue Zones: areas of exceptional longevity around the world. Vienna Yearbook of Population Research, 11:87–108. https://doi.org/10.1553/populationyearbook2013s87
  12. Rosero-Bixby L, Dow WH, Rehkopf DH (2013). The Nicoya region of Costa Rica: a high longevity island for elderly males. Vienna Yearbook of Population Research, 11:109–136. https://doi.org/10.1553/populationyearbook2013s109
  13. Rosero-Bixby L (2023). The vanishing advantage of longevity in Nicoya, Costa Rica: a cohort shift. Demogr Res, 49(27):723–736. https://doi.org/10.4054/DemRes.2023.49.27
  14. Sone T, dkk. (2008). Sense of life worth living (ikigai) and mortality in Japan: Ohsaki Study. Psychosom Med, 70(6):709–715. https://doi.org/10.1097/PSY.0b013e31817e7e64
  15. Willcox BJ, dkk. (2007). Caloric restriction, the traditional Okinawan diet, and healthy aging. Ann N Y Acad Sci, 1114:434–455. https://doi.org/10.1196/annals.1396.037
Share the Post:

Related Posts

Join Our Newsletter